foto mbak wardahMbak Wardah Hafidz adalah seorang pejuang gerakan. Sudah bertahun lamanya bersama UPC dan Jerami melakukan pengorganisasian rakyat. Bersama kami PRT Mbak Wardah sering melakukan pelatihan dan menjadi kawan diskusi tentang pentingnya pengorganisasian dan PRT berorganisasi. Dalam kesempatan ini, Reporter kami, Leni Suryani berkesempatan meneui Mbak Wardah dirumahnya yang asri di Pamulang. Berikut Wawancara dengan Mbak Wardah Hafidz.

Leni Suryani:   “Menurut Mbak Wardah, mengapa PRT perlu berorganisasi dan apa manfaatnya?”

Wardah Hafidz: “Walaupun de facto pekerjaan yang dilakukannya dibutuhkan oleh masyarakat luas, PRT adalah kelompok sosial yang dipandang rendah dan dipinggirkan, dan pekerjaannya dilihat sebagai peran tradisional yang tidak masuk dalam kategori pekerjaan sebagaimana berbagai jenis pekerjaan lain khususnya di sektor formal; karenanya pekerjaan PRT dianggap  tidak perlu diatur dan dilindungi secara hukumi. Untuk mengubah kondisi dan posisi tersebut, PRT tidak bisa memperjuangkannya sendiri-sendiri secara individual. PRT harus secara cerdas dan kritis memahami mengapa kondisi dan posisinya di masyarakat sebagaimana adanya sekarang, faktor apa saja yang menjadi penyebabnya, secara kolektif  mampu memformulasikan langkah-langkah untuk mengubah, dan bersama-sama melakukan langkah-langkah efektif untuk perubahan tersebut. Untuk semua itu, tidak ada pilihan kecuali PRT harus mengorganisasikan diri, menyatukan kekuatan, sumberdaya, dan bekerja keras secara bersama-sama. Itulah pengertian dan manfaat pengorganisasian.”

Leni Suryani:  “Seberapa besar jumlah yang dibutuhkan organisasi PRT untuk bisa dikatakan kuat seperti raksasa?”

Wardah Hafidz: “Secara teori dan dari ukuran ideal, jumlah PRT yang mesti sudah terorganisasi dalam pengertian sebagaimana diuraikan di nomer 1 adalah sepertiga total jumlah PRT. Untuk dapat menjangkau jumlah tersebut, perlu ada kelompok inti dalam gerakan PRT yang mempunyai kesadaran kuat akan hak-hak konstitusional dan hak-hak PRT sebagai manusia, yang militan, dan bersedia memberikan pikiran, waktu, dan tenaganya untuk perjuangan perubahan. Kelompok inti inilah yang menjadi motor penggerak perjuangan.”

Leni Suryani: “Jadi kalau data PRT di Indonesia ada sekitar 4, 2 juta maka setidaknya 1,3 juta PRT di Indonesia harus berorganisasi dan berjuang ya Mbak?” Bahkan kalau data JALA PRT di Indonesia ada 10,7 juta, maka 4 juta PRT harus berorganisasi. Wouuw pekerjaan besar …”

Wardah Hafidz:  Iya seperti saya sampaikan. Kalau dikatakan besar  sebagai raksasa maka harus besar jumlah dan mewakili keberadaan jumlah PRT yang dikatakan besar, jutaan.

Leni Suryani: “Bagaimana cara membangunkan PRT yang diibaratkan sebagai raksasa tidur?”

Wardah Hafidz: Secara terencana gerakan PRT melakukan penyadaran hak, meningkatkan sikap kritis dan cerdas para PRT, meningkatkan ketrampilan dan sikap profesional terkait perannya sebagai PRT, menjangkau sebanyak mungkin PRT untuk masuk dalam organisasi yang dikelola secara demokratis, transparan, dan bertanggungjawab.

 

Leni Suryani:  “Selama ini Mbak Wardah mengenalkan salah satu metode pengorganisasian, yaotu metode RAP. Apa kekuatan dan kelemahan enam langkah RAP?”

Wardah Hafidz: Enam langkah Rap adalah proses yang mencakup langkah praktis dan strategis:

langkah 1: perkenalan secara pribadi memungkinkan rapper mengenal dan dikenal oleh setiap anggota komunitasnya, membangun pola relasi yang kuat untuk tujuan gerakan.

langkah 2: penumbuhan kesadaran akan permasalahan yang dihadapi PRT sebagai kelompok sosial; memungkinkan rapper mengenali dan memahami berbagai permasalahan yang dihadapi komunitasnya. pengetahuan ini sangat penting dan membantu dalam rapper sebagai pendamping komunitas menentukan langkah dan kegiatan yang akan dilakukan agar sesuai kebutuhan dan menjawab permasalahan yang dihadapi kelompoknya.

langkah 3: biasanya dirasakan sebagai langkah paling sulit, karena menuntut rapper untuk bisa menumbuhkan kesadaran pihak yang dirap tentang penyebab struktural dari permasalahan bersama yang dihadapi PRT; bahwa masalah-masalah tersebut bukan disebabkan oleh hal-hal seperti suratan takdir, kehendak atau hukuman Tuhan, karena PRT malas atau bodoh. Rapper dituntut untuk bisa menumbuhkan pemahaman kepada pihak yang dirap bahwa masalah-masalah tersebut disebabkan oleh pengaturan yang tidak adil dalam masyarakat, yang meminggirkan dan mengingkari hak-hak mereka yang lemah.

langkah 4, 5 , 6: upaya untuk menggerakkan PRT sebagai pemilik masalah untuk bergabung dan aktif memecahkan masalah.

Tanpa penyiapan yang sungguh-sungguh untuk rapper dapat melakukan langkah 2 dan 3 dengan baik, kegiatan rap akan terbatas pada tindakan teknis mengajak PRT bergabung dalam organisasi bukan karena kesadaran, tetapi karena ancaman dan iming-iming manfaat yang dijanjikan rapper. Jika hal tersebut yang terjadi, gerakan dan perjuangan PRT kemungkinan mempunyai banyak anggota secara nominal, tetapi akan keropos dan lemah.

 

Leni Suryani:  “Upaya apa saja yang mesti dilakukan untuk membuat PRT tertarik bergabung dan aktif dalam organisasi PRT?”

Wardah Hafidz: Dari antara berbagai langkah sebagaimana disebut di atas, pemberian informasi dan penyadaran akan permasalahan, hak, dan kesepakatan akan tujuan yang sama merupakan hal-hal penting yang mesti dilakukan. Dengan kata lain, upaya yang dilakukan adalah menumbuhkan harapan bahwa perubahan yang lebih baik adalah satu keniscayaan dan mungkin diwujudkan.

Leni Suryani: “Bagaimana cara mengubah pandangan masyarakat yang menganggap PRT bukan pekerja seperti pekerja yang lain?”

Wardah Hafidz: Dengan cara sebagaimana telah disebut di atas: PRT profesional dalam melakukan pekerjaannya; tahu hak-haknya sehingga dapat bersikap dan melakukan negosiasi dengan calon/majikan sesuai hak dan kapasitasnya; mempublikasikan secara luas dan terus menerus pentingnya peran dan sumbangan positif PRT dalam masyarakat; memonitor, mengontrol, dan bersuara serta melakukan tindakan jika terjadi pelanggaran atas hak-hak PRT yang dilakukan siapapun dalam masyarakat.

 

Leni Suryani:  “Bagaimana cara merawat supaya anggota tetap aktif dalam organisasi?”

Wardah Hafidz: Mengadakan berbagai kegiatan yang secara konkret dirasa bermanfaat oleh para anggota, dengan tanpa menumbuhkan ketergantungan ataupun melemahkan keswadayaan dan kemampuan memecahkan masalah secara mandiri.

Leni Suryani: “Seringkali PRT yang sudah merasa aman karena gaji tinggi dan majikan bersikap baik, tidak merasa perlu berorganisasi. Bagaimana cara menyadarkan PRT tsb. akan pentingnya berorganisasi?”

Wardah Haidz: Menunjukkan bahwa tidak semua PRT beruntung seperti dia, dan bahwa apa yang dia dapatkan saat ini, karena berbagai alasan, bisa berubah sebaliknya, dan bahwa diperlukan kepedulian para PRT seperti mereka yang sudah beruntung untuk ikut memikirkan nasib para PRT lainnya. Hal-hal tersebut dapat dilakukan dengan menunjukkan data dan fakta tentang kondisi marginal PRT, atau mengajak PRT yang mengalami penindasan bertemua langsung dengan PRT-PRT yang berposisi lebih baik tersebut, untuk berdialog.

Leni Suryani: “Apakah jika UUPPRT dan Ratifikasi Konvensi ILO 189 tentang kerja layak sudah terwujud, pengorganisasian akan berhenti karena tujuan sudah tercapai?”

Wardah Hafidz: Tidak. Adanya undang-undang dan ratifikasi di atas kertas tidak otomatis menghentikan cara pandang dan perilaku masyarakat yang melecehkan hak-hak PRT. PRT perlu terus aktif berorganisasi untuk memastikan ketentuan-ketentuan dalam UU dan Konvensi tersebut sungguh terwujud dalam masayarakat – perlu waktu dan upaya serius untuk ini; gerakan PRT perlu terus mejaga dan menguatkan semangat para PRT untuk terus aktif berjuang; dan gerakan PRT perlu terus meningkatkan keahlian dan ketrampilan para PRT. Semua itu memerlukan organisasi dan pengorganisasian.

Leni Suryani: “Kendala apa yang anda alami dalam berorganisasi?”

Wardah Hafidz: Sama seperti yang dialami oleh kawan-kawan PRT selama ini.

 

Rep: Leni Suryani – SPRT Sapulidi