Sudah lebih dua minggu kami menantikan momentum ini. Bersiap untuk memperingati Hari PRT Nasional dengan aksi. Aksi hari PRT Nasional sudah kami siapkan jauh-jauh hari. Semua dibahas bersama dalam satu “lingkaran”, apa yang mau kami lakukan, bagaimana dan dimana. Untuk yang di Jabodetabek, kami organisasi PRT dari berbagai wilayah di Jabodetbek memilih aksi. Rasanya gemas melihat DPR dan pemerintah yang tidak menghiraukan tuntutan pengesahan Undang-Undang Perlindungan PRT   (UU PPRT) kami. Kali ini kami memilih untuk aksi di depan kantor Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) RI. Mengapa di Kemenaker? Karena kami jengkel pada pak Menteri Tenaga Kerja RI, Hanif Dhakiri, dan pejabatnya selalu bilang kalau RUU PPRT itu di DPR.  Pak Hanif Dhakiri juga bilang Konvensi ILO 189 itu budaya Barat. Lha jelas di Nawacita Presiden menyebutkan ada UU Perlindungan PRT. Masak kami dipingpong terus. Bukan kami tidak tahu ya Pak. Mengajukan dan membahas RUU itu kan kewenangan DPR dan Pemerintah, jadi jangan lepas tangan. Terus masak PRT minta libur mingguan, minta jaminan kesehatan, dibilang budaya Barat.

Lalu bentuk aksinya apa? Kami ingat dengan tulisan di kaos seragam kami, “PERAS CUCIANNYA BUKAN PRTNYA”. Mbak Ulfa dari Kapal Perempuan yang mengingatkan hal tersebut. Jadilah kita putuskan aksi di Kemenaker dengan “Aksi 100 PRT Mencuci, Memeras, dan Menjemur Pakaian.” Jadi kalau tidak ada Undang-Undang artinya pemerintah membiarkan pemerasan terhadap PRT. Tidak ada hak dan batasan jam dan beban kerja dengan upah yang sangat rendah.

Aksi ini bertujuan mengingatkan pemerintah nasional, khususnya Kemenaker, dan DPR yang masih tidak mau membahas dan mengesahkan RUU PPRT, supaya mereka sadar bahwa PRT benar-benar membutuhkan perlindungan.

Berapa banyak PRT akan “turun” aksi? Itu pertanyaan tidak mudah untuk dijawab. 15 Februari 2018 itu hari Kamis, hari kerja, pasti PRT sulit mendapat ijin dari majikan. Tapi kami bertekad, jangan bilang “tidak bisa” sebelum mencoba. Akhirnya kami meminta semua anggota Serikat PRT dan operata untuk berkomunikasi dan bernegosiasi dengan majikan mereka. PRT harus menjelaskan ke majikannya bahwa 15 Februari Hari PRT, dan PRT mau memperingatinya. Negosiasi awal minta libur, kalau tidak bisa, minta masuk setengah hari atau tukar hari atau tukar jam bagi yang part-time. Misalnya untuk SPRT Sapulidi dengan mengumpulkan informasi dari anggota Tim 10 dan sub komunitas. Ternyata lebih dari 100 anggota bisa bernegosiasi. Ada yang libur, ada yang ganti hari, ada yang tukar jam kerja, dan ada yang tukar masuk kerja pas libur Imlek tanggal 16 Februari 2018. Namun ada juga yang nekad tetap ikut aksi meski majikan melarang. Resikonya berat bisa dipecat. Itulah perjuangan para PRT.

Sembari panitia aksi mempersiapkan perlengkapan, semua membagi tugas. Ada yang mengurus pakaian bekas dengan mengumpulkan sumbangan pakaian kawan-kawan anggota. Ada yang mengurus bambu, gallon air, ember, jepitan jemuran, dan lain-lain.

Hari H telah tiba, PRT yang biasanya bangun pagi untuk bekerja di tempat majikan, kali ini mengarah ke Kemenaker. Ada yang konvoi bersama, ada yang berangkat dari JALA PRT karena mengurus perangkat aksi. Semua merasa gembira. Kami tahu mendung dan hujan bisa datang tiba-tiba, tapi itu tidak mengurungkan tekad kami.

Ada sebagian besar dari kami adalah ibu yang mempunyai anak. Anak-anak bertanya kok ibunya ikut aksi segala. Ada yang heran, ada yang cemas, dan ada yang gembira menyemangati. Beragam pertanyaan dan komentar meluncur dari anak-anak, juga suami dari PRT.

Pukul 8 pagi, tanggal 15 Februari 2018, peserta aksi sudah berkumpul di Kemenaker. Tanggal 15 Februari 2018, adalah Hari PRT Nasional, dimana hari ini kami dari berbagai PRT di Jabodetabek mengadakan Aksi  “Peras Cuciannya Bukan PRT-nya”  di Kemenaker RI di Jl. Gatot Subroto Jakarta Selatan.

Dihadiri kurang lebih 200 PRT yang sudah bergabung di organisasi, seperti SPDPRT Sapulidi Jakarta, Operata Pondok Cabe, Sedap Malam, Operata Panongan, Operata Vipamas dan tentu saja dari anggota JALA PRT yang lain.  Bertindak sebagai Korlap adalah Prili dari LBH Jakarta.

Sebelum acara mulai, dilakukan briefing terlebih dulu oleh Seknas JALA PRT di pelataran parkir depan Kemenaker. Kemudian kami mulai dengan memasang tiang jemuran dari bambu, memasang tali dan jepitan. Kemudian kami siapkan ember, pakaian dan air. Ada 10 barisan jemuran dan 100 pakaian yang siap kami cuci ,peras, dan jemur.

Ada para bapak petugas keamanan Kemenaker berpakaian hitam-hitam yang membantu mengosongkan parkiran agar kami bisa beraksi. Petugas keamanan tersebut menanyakan tentang tuntutan kami dan mau bertemu siapa. Ya kami jawab kami mau bertemu dengan Pak Menteri bukan yang lain.

Acara diawali dengan aba-aba untuk merapatkan barisan. Kemudian berdoa dan menyanyikan Indonesia Raya. Orasi dari Koordinator Lapangan (Korlap),  Seknas JALA PRT, kemudian disusul dari PRT yaitu Bu Fadilah dari Operata Vipamas dan Leni Suryani dari SPRT Sapulidi. Hujan gerimis mengiringi semangat kami.

Nah, saat yang ditunggu tiba. Kami kemudian  “MENCUCI, MEMERAS DAN MENJEMUR” dengan aba-aba dari Seknas JALA PRT dan diiringi yel-yel “PERAS CUCIANNYA … BUKAN PRTNYA”.

Kami tahu kalau para pejabat yang bekerja di gedung Kemenaker itu melihat aksi kami di balik kaca gedung tempat mereka bekerja. Kami senang dan bahagia melakukan aksi ini walaupun waktunya sangat singkat dan hujan. Kami malah tambah semangat dengan diguyur hujan dan berbasah- basahan.

Ada berbagai media massa yang datang meliput kami, seperti CNN Indonesia, RTV, Tempo, Kompas, Detik, Okezone. Meski beberapa datang terlambat, kami menyambut media massa dengan melanjutkan aksi lagi.

Setelah aksi, Yuni SR yang bertugas sebagai reporter dari TUNGKU MENYALA, berkesempatan mewawancara Prili  yang menjadi Korlap Aksi dan Maulana dari LBH Jakarta.

“Saya sangat senang, karena ini aksi yang pertama saya ikuti. Ada keunikan tersendiri di Aksi PRT ini, yaitu adanya peras cucian. Ini merupakan aksi dengan kebudayaan tersendiri, saya melihat kawan-kawan PRT sangat antusias mengikutinya walaupun diguyur hujan.” kata Prili

Maulana dari LBH Jakarta juga member kesan positip. “Saya melihat semangat dari kawan-kawan PRT hebat, berani datang ke Kemenaker pagi-pagi. Pastinya ini strategi yang luar biasa bagi kawan-kawan PRT dengan membawa 100 ember peras cucian di depan Kemenaker. Semua dilakukan untuk menekan pemerintah dan DPR agar segera membahas dan mengesahkan RUU PPRT dan Ratifikasi KILO 189 tentang Kerja Layak PRT.”

Selain dari LBH Jakarta, Yuni juga mewawancarai wartawan dari media massa. Kalau selama ini mereka yang mewawancara kami, maka gantian kami PRT yang wawancara media massa. Saya meminta kesan mas Wiladi dari Detik.Com yang datang di aksi tersebut. Simak pendapatnya. “Aksi cuci baju ini unik, baru pertama kali di lakukan di gedung Kemenaker, didominasi oleh ibu-ibu yang berani meminta ijin pada majikannya.”

Kemudian mas Reza dari Tirto.id juga memberikan kesannya. “PRT harus berorganisasi untuk meminta haknya karena aturan-aturan yang lemah untuk PRT. PRT harus mengorganisir kawan untuk berorganisasi  sampai UU PPRT disahkan.”

Aksi memperingati Hari PRT Nasional juga dilakukan di Makassar. Kawan-kawan SPRT Paraikatte Makassar melakukan Aksi Hari PRT 15 Februari 2018 dengan rencana mencegat  Presiden Jokowi yang tengah berada di Makassar. Harapannya agar bisa terlihat oleh Jokowi ketika lewat bawah fly over. Tentu saja rombongan dihadang oleh TNI karena tidak diperbolehkan aksi dekat Presiden. Kawan-kawan PRT berpikir siapa tahu bisa membentangkan spanduk dadakan. Jadi Pak Jokowi tahu bahwa PRT butuh UU PPRT.  Karena dilarang oleh TNI maka kawan-kawan dari SPRT Paraikatte hanya membentangkan spanduk sebentar dan itu hanya boleh sebelum Pak Jokowi lewat.

Sedangkan di Yogyakarta, SPRT Tunas Mulia mengadakan Siaran Talkshow Radio di RRI untuk Memperingati Hari PRT 15 Februari 2018. Temanya “17 Tahun Sunarsih belum ada perubahan apapun terhadap Nasib PRT.” Jumiyem – Pemimpin Redaksi TUNGKU MENYALA menjadi pembicara dalam Talkshow tersebut.

Aksi juga dilakukan di Bandar Lampung yang dilakukan SPRT Bandar Lampung dengan mengadakan Diskusi Bersama Anggota SPRT Bandar Lampung untuk Memperingati Hari PRT 15 Februari 2018. Tema diskusi adalah mengenai sejarah hari PRT dan jugaa membahas tentang perjalanan RUU PPRT.

Reporter: Yuni Sri Rahayu – SPRT Sapulidi (Jakarta), Irma- SPRT Paraikatte (Makassar), Sargini- SPRT Tunas Mulia (Yogyakarta), Suriyati-SPRT Bandar Lampung