Ketika kita bicara upah PRT dengan upah pekerja lainnya, pasti seringnya berujung pada pendapat, “Ya tidak bisa sama…kan PRT kalau dihitung dari upahnya tinggal di dalam, tidak bayar sewa kost, tidak bayar listrik, makan sudah dengan boss…” Hal ini diikuti lagi pendapat, “Kalau dihitung-hitung besarannya upah malah PRT bisa menghemat.”

Namun benarkah demikian? Kebutuhan hidup PRT seperti anggapan orang banyak, bahwa dengan bekerja full time dan menginap, maka lebih hemat dan bisa mencukupi kebutuhannya?

PRT juga seperti warga lainnya, berkeluarga. Justru PRT bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Keluarganya, artinya dia bersama suami dan anak-anaknya di kota atau di desa. Bagi PRT yang belum menikah, arti keluarga adalah dia bersama orang tua dan saudara-saudaranya di desa. Karena sebagian besar dari PRT bekerja memang untuk menafkahi keluarga. Sama-sama sebagai tulang punggung keluarga.

Seperti yang lain, maka kebutuhan hidup PRT juga banyak, meliputi pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, transportasi, komunikasi, sosial. Apalagi untuk memiliki anak usia sekolah, tidak semua PRT mendapat KIP, BOS, KJP atau sebagainya. Tidak semua PRT mendapat kartu Penerima Bantuan Iuran (PBI), KIS atau KJS.

Sementara dari kebutuhan hidup perbulan, upah PRT di DKI Jakarta berkisar rata-rata Rp. 800.000-1.200.000 perbulan atau 25-30% dari UMR DKI Jakarta yang besarannya Rp 3.648.035. Di Semarang, berkisar Rp. 600.000-1.000.000 dari UMK Semarang Rp. 2.310.087. Di Makassar, berkisar Rp. 500.000-800.000 dari UMK Rp. 2.722.641.

Lantas bagaimana kawan-kawan PRT menyiasati antara upah yang sangat kecil  dengan kebutuhan hidupnya? Apa saja pilihan-pilihan yang diambil?

Mari kita ikuti  laporan  dari para reporter TUNGKU MENYALA: Leni, Yuni, Nur Khasanah membagi cerita dari kawan-kawan PRT dari berbagai wilayah: Sunarti, Aang Yuningsih di DKI Jakarta dan Martiah dari Semarang.

***

Wooooow… PRT 13 Pintu !

Angka 13 sering menjadi angka yang dihindari. Kata orang sih,  khawatirnya akan membawa sial. Namun tidak bagi Sunarti, PRT yang justru menggenapi jumlah majikannya menjadi 13. Woooow… 13 “pintu”..? Bagaimana bisa  seorang PRT bisa bekerja dengan 13 majikan atau 13 pintu? PRT biasanya menyebut satu majikan dengan istilah satu pintu.  Dengan demikian, artinya 13 itu bukan satu rumah isi 13 anggota keluarga, tapi memang 13 majikan yang berbeda rumah.

Kenapa kok 13 pintu? Kok bisa? Lalu bagaimana caranya? Nah, mari simak laporan lapangan dan wawancara reporter kami, Leni Suryani yang langsung dari sumbernya. Leni mewawancarai Sunarti, PRT 30 tahun  asal Cilacap, yang bekerja di 13 majikan di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat.

Leni       :     “Mbak Narti, sejak kapan bekerja sebagai PRT?”

Sunarti  :     “Semenjak awal tahun 2008”

Leni       :     “Apakah sudah berkeluarga dan berapa anaknya?”

Sunarti  :      “Sudah nikah dan punya 2 anak usia 2 tahun dan 12 tahun”

Leni       :     “Mbak Narti  bekerja full-time atau part-time?”

Sunarti  :     “Saya bekerja part-time”

Leni       :     “Mengapa memilih bekerja part-time?” “Kan makin tidak cukup gajinya kalau bekerja part time?”

Sunarti  :     “Justru saya kerja bekerja part-time karena kalau full-time saja tidak cukup”.

Leni       :     “Maksudnya?”

Sunarti  :     “Saya kerja part-time, karena waktunya part-time pendek. Jadi saya bisa bekerja lebih dari dari 1 pintu, gitu. Jadi saya bisa punya penghasilan lagi”

Leni       :     “Apakah itu satu-satunya alasan bekerja part time? Maksud saya, Mbak Narti memilih banyak pintu untuk mengatasi kebutuhan hidup atau ada alasan lain? Kenapa kalau satu pintu tidak cukup? Kan PRT yang lain banyak yang 1 pintu dan menginap?”

Sunarti  :     “Ya buat saya, kalau hanya 1 pintu memang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga saya. Gaji full-time hanya bisa mungkin bayar sewa kamar 1 juta dan listrik, buat kebutuhan yang lain-lain ya kurang. Beda kalau kerja part-time dan kerja di orang ekspat (ekspatriat), karena gaji untuk kerja part-time di 1 pintu itu paling besar 1,3 juta perbulan untuk 2-3 jam dan 5 hari kerja per minggu. Sedangkan kebutuhan saya banyak, untuk biaya pendidikan 2  anak saya, bayar kontrakan, makan,  kesehatan, tabungan dan lain-lain, apalagi di Jakarta. Jadi untuk memenuhi kebutuhan hidup di Jakarta saya mencari pekerjaan part-time lebih dari satu pintu.

Leni       :     “Mbak Narti kerja part-time berapa pintu?”

Sunarti  :     “Saya kerja untuk 13 pintu”

Leni       :     “Woooow…hebat!!! Bagaimana bisa Mbak Narti, emang tidak bingung dan capek? Di mana saja atau bagaimana cara mengatur waktunya? bisa cerita bagaimana caranya?”

Sunarti  :     “Capek ya pasti iya, tapi namannya juga kebutuhan. Saya bekerja di berbagai apartemen di sekitar Kuningan, Casablanca, Sudirman, Thamrin. Ya… 13 pintu itu, beda jam. Ini jadwal saya…”

(Mbak Sunarti memperlihatkan catatannya)

Senin  :     4 Senopati Resident, 2 Casagrande, 1 Asscot Kuningan, 1 Thamrin Resident, 1 Batavia

Selasa:     1 Casagrande,  1 Capital, 1 Ascot Kuningan, 1 The Peak, 1 Ascot Sudirman

Rabu   :     2 Casagrande, 2 Ascot Kuningan, 1 Senopati Resident, 1 Sudirman Mansion, 1 Batavia, 1 Thamrin Resident

Kamis :     1 Casagrande , 3 Senopati Resident, 1 Capital, 1 Ascot Kuningan

Jumat :     2 Casagrande,  1 Senopati Resident, 1 Batavia, 1 Thamrin Resident, 1 Ascot 1 Sudirman, 1 The Peak

Sabtu  :     1 Sudirman Mansion, 1 Capital

Leni       :     “Tadi pertanyaan saya belum dijawab, bagaimana Mbak Narti mengatur waktunya, juga waktu untuk keluarga dan istirahat? Berangkat bekerja dari jam berapa?  Selesai bekerja jam berapa?”

Sunarti  :     “Saya berangkat kerja jam 6 pagi. Rata-rata saya kerja 2 jam untuk 1 pintu untuk kerja bersih-bersih, mencuci, dan ada  yang bisa 3 jam untuk kerja memasak. Untuk hari Senin saya selesai jam 8 malam karena saya membagi waktu untuk 9 pintu. Sampai rumah sekitar jam 9 malam. Hari Selasa- Jumat saya pulang sekitar jam 7 atau 8 malam sampai rumah. Hari Sabtu setengah hari biasanya jam 1 siang pulang. Dengan pekerjaan yang saya jalani sekarang, saya membagi waktu dengan anak dan suami setelah pulang kerja sekitar jam 9 malam. Kadang anak saya yang kecil sudah tidur ketika saya pulang. Sabtu kerja setengah hari jadi bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk keluarga. Hari Minggu saya tidak bekerja, jadi bisa seharian bersama mereka, atau kegiatan organisasi dan istirahat.”

Leni       :     “Berapa upah Mbak Narti per pintu perbulan? dan kalau boleh tahu, berapa total pendapatan semua dari 13 pintu?”

Sunarti  :     “Pendapatan setiap bulan mencapai sepuluh juta lima ratus ribu rupiah (Rp. 10.500.000,-). Rinciannya gaji Rp. 800.000,- sampai 1.300.000,- per pintu perbulan dikali 13 pintu. Dari semua pintu, gaji paling besar Rp. 1.300.000,-  untuk kerja memasak 3 kali seminggu dan hanya 2 sampai 3 jam. Bandingkan kalau saya kerja full-time nginap di 1 pintu hanya mendapat Rp. 1.200.000,- di orang kita (Indonesia) atau Rp. 2.500.000,- di ekspat. Dan tahu sendiri, kerja full-time bisa dari pagi jam 5 sampai jam 9 malam tiap hari, lebih berat dan capek kan? juga tidak bisa punya waktu untuk keluarga.”

Leni       :     “Dengan pendapatan sekitar Rp. 10.000.000, apakah Mbak Narti bisa menabung banyak? Kalau boleh tahu dalam bentuk apa saja tabungannya?”

Sunarti  :     “Alhamdulillah…cukup untuk menghidupi kebutuhan keluarga. Dan yang penting saya bisa  menabung tiap bulan untuk pendidikan dua anak saya kelak agar bisa sekolah tinggi. Saya juga bisa menabung untuk cita-cita saya bersama suami agar kelak bisa membuka usaha toko kelontong sendiri di kampung. Untuk itu semua saya dan suami saling bahu membahu.”

Leni       :     “Menurut Mbak Narti, apakah  cara ini diikuti oleh banyak PRT?”

Sunarti  :     “Bagi sebagian kawan-kawan iya, karena alasan kebutuhan. Dan makin bertambah PRT yang memilih part-time saya rasa, tapi tidak sebanyak seperti saya. Karena kerja part-time bisa berbagi waktu dengan keluarga atau bisa memanfaatkan waktu di luar kerja untuk kegiatan lainnya.”

Leni       :     “Ok, Mbak Narti, terima kasih banyak untuk ceritanya ya, bisa menginspirasi PRT lainnya.”

Sunarti  :     “Sama-sama.”

***

 Selain Sunarti, ada lagi cerita dari Aang Yuningsih, biasa dipanggil Bu Aang asal dari Bogor,  bekerja sebagai PRT part time  di 5 majikan di wilayah Jakarta Selatan. Berikut wawancara Yuni dengan bu Aang.

Yuni       :     “Sejak kapan Bu Aang bekerja menjadi PRT?”

Aang      :     “Sejak 27 Juli 1997. Saya masih ingat sekali dan itu saya pikir tanggal dan tahun keberuntungan. Karena saya dapat pekerjaan”

Yuni       :     “Apakah Bu Aang sudah berkeluarga dan berapa anaknya?

Aang      :     “Sudah mbak, anak saya ada dua, semua laki-laki.”

Yuni       :     “Bu Aang bersedia berbagi cerita? Saya dengar Bu Aang bekerja part-time di banyak pintu? Bagaimana ceritanya, kok bisa?”

Aang      :     “Iya, saya kerja par-time Mbak”

Yuni      :     “Mengapa memilih bekerja part-time?”

Aang      :     “Awalnya dulu saya kerja full-time. Setelah kerja saya yang pertama 9 tahun habis, saya dipindah ke teman majikan yang lainnya yang minta part-time. Nah…, dari situ saya mendapatkan pekerjaan part- time.”

Yuni       :     “Bu Aang bekerja di berapa majikan?”

Aang      :     “Saya bekerja dengan 5 majikan sekarang, Mbak.”

Yuni       :     “5 majikan, bagaimana mengatur waktunya… apa saja tugasnya?”

Aang      :     “Ya kerjanya bersih-bersih…,kalau sudah selesai saya pindah ke tempat majikan yang lain. Kebetulan semua majikan satu apartemen. Saya mulai kerja biasanya dari jam 8 pagi sampai 3 sore setiap hari Senin, Rabu,  Jumat, di 2 tempat. Terus jam 3 sore untuk Selasa, Kamis dan Sabtu. Minggu saya libur.”

Yuni       :     “Berapa pendapatan perbulan per majikan?”

Aang      :     “Kalau pendapatan permajikan perbulan, ya masih jauh dari upah layak, Mbak.  Makanya saya kerja di banyak majikan.  Pendapatan permajikan antara Rp.800.000 sampai 1.500.000. Total pendapatan Rp. 4.300.000 per bulan. Ya untuk mencukup kebutuhan… tapi anak saya tahu perjuangan ibunya yang mengurus mereka sendirian. Saya banyak keperluan, dan harus berjuang sendirian ditambah sewaktu dulu mengurus ibu saya yang sedang sakit, mau gimana lagi yang penting saya kerja tidak ada uang haram yang menempel di anak dan keluarga saya.”

***

PRT yang bekerja part-time juga banyak dilakukan di luar Jakarta, seperti Mbak Martiah, PRT yang bekerja di Semarang. Minggu sore (18/2), reporter  kami, Nur Khasanah menemui seorang Pekerja Rumah Tangga (PRT) di rumahnya Kampung Kedungjangan, Purwosari Mijen, Semarang.  Berikut penuturan Nur dari lapangan.

PRT yang bernama Martiah menyambut ramah ketika saya mendatangi rumahnya. Saat itu, dia sedang beristirahat siang. Kami berbincang santai di ruang tamu.

Martiah menceritakan pengalamannya sebagai PRT. Martiah mulai bekerja sejak usia 17 tahun. Selama ini, untuk mencukupi kebutuhan  rumah tangganya, Martiah bekerja pada 4 majikan.

Martiah saat ini tinggal bersama suami dan kedua anaknya. “Ketika suami sakit, saya mau berhenti menjadi PRT. Tapi majikan keberatan. Majikan saya ternyata mudah ngasih izin sama saya,” ujar perempuan berusia 43 tahun itu.

Martiah memilih bekerja di banyak majikan karena penghasilannya kalau bekerja pada 1 majikan sedikit. Dari hasil bekerjanya sebagai PRT biasanya untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya serta membayar biaya sekolah anaknya. “Jadi tidak cukup kalau satu majikan,” imbuhnya.

Martiah kemudian menjelaskan tentang tugasnya bekerja di 4 majikan, mengapa kok bisa dirangkap. Martiah menceritakan, pekerjaannya mulai dari membersihkan rumah, menyetrika dan mencuci pakaian dua hari sekali.

Setiap dua hari sekali ia datang dan menyelesaikan pekerjaan dalam kurun waktu 2-3 jam. Dia harus bisa membagi waktu.

“Ya Mbak, kalau di majikan satunya nyuci pakai tangan tapi kurang cepat. Kalau yang majikan satunya lagi enak bisa cepat karena pakai mesin cuci. Tapi saya malah ndak bisa kalau mesin cucinya otomatis. Waktune ora nyandak,” ungkapnya, seraya menambahkan bahwa jam kerjanya tiap hari mulai pukul 08.00 WIB-16.00 WIB.

Martiah mengaku upahnya sebagai seorang PRT cukup bervariasi. Ia bilang upahnya mulai dari Rp 200 ribu sampai paling banyak Rp 500 ribu untuk setiap majikan. Sehingga total upah bulanannya sebesar Rp 1.110.000.

Martiah menambahkan cara kerja part time sebagai PRT juga kerap dilakukan teman-temannya.

Selain itu, ia berharap majikannya lebih peduli terhadap kesehatan PRT. Sebab, seperti dirinya yang sedang sakit, masih harus membiayai pengobatannya menggunakan BPJS Kesehatan secara mandiri.

***

Sebetulnya kami masih sangat banyak cerita contoh PRT yang bekerja part time. Di SPRT Tunas Mulia DIY, hampir 60% anggotanya bekerja part-time. Dibanding dulu yang tahun 2003 masih sangat sedikit, yang part-time hanya 6 orang. Demikian juga di anggota SPRT Sapulidi, Operata  Pondok Cabe, Operata Panongan di Jabodetabek, SPRT Merdeka di Semarang dan SPRT Paraikatte. Kawan-kawan PRT mulai bergeser pola waktu kerjanya. Dari yang dulu full-time menginap, kemudian memilih full-time tidak menginap, seperti PRT yang tidak jauh rumahnya dengan tempat majikan. Sekarang bergeser lagi makin banyak yang bekerja part-time untuk lebih dari 1 majikan. Sebagian besar di anggota SPRT Sapulidi bekerja untuk 2-3 majikan dengan pendapatan rata-rata Rp. 800.000 sampai 1.200.000 per majikan perbulan.

Kecenderungan ini juga diikuti dengan makin banyaknya jenis hunian rumah apartemen, seperti di wilayah Jakarta Selatan, Jakarta Pusat dan  Jakarta Utara.

Bagi kawan-kawan PRT, bekerja part time dengan lebih 1 majikan, alasan ekonomi dan kebutuhan hidup yang besar menjadi alasan pokok. Alasan kedua, dengan part time membuat PRT lebih memiliki waktu untuk mengatur dirinya sendiri untuk istirahat dan keluarganya atau lain-lain. Seperti pendapat kawan-kawan PRT yang sudah merasakan bekerja part-time di beberapa majikan dibanding dulunya bekerja full time di 1 majikan yang waktunya justru lebih panjang dan lebih sedikit pendapatannya.

Nah… sekarang bagaimana pendapat pembaca ….?