Salam hangat untuk pembaca di mana pun berada. TUNGKU MENYALA  pada Edisi Ke-3  hadir dengan nuansa Hari Perempuan Internasional  yang diperingati sedunia setiap 8 Maret.  Di Edisi ini kami ingin membagi perjalanan–kisah perempuan-perempuan yang luar biasa dengan pekerjaan dan peran yang digelutinya selama ini yang mungkin tidak tampak tapi andil dalam perekonomian sangat besar. Mereka adalah buruh pabrik, buruh gendong, pekerja rumahan dan pekerja rumah tangga.

Semua bekerja, berperan besar dalam sistem perekonomian. Namun bagaimana situasi para pekerja perempuan? Sudahkah sebagai warga Negara dan pekerja mereka dihargai dan mendapat perlindungan untuk situasi pekerjaan dan penghidupan yang layak?

Di bulan Maret ini, setiap bulannya, Hari Perempuan Internasional diperingati. Hari Perempuan Internasional tidak lahir begitu saja, ada latar belakang sejarah dari berbagai kondisi pekerja perempuan yang mendapatkan kekerasan dan diskriminasi di tempat kerja. Mereka mengalami kekerasan dari berbagai aktor, mulai dari pemberi kerja, masyarakat, dan negara. Lalu mereka berjuang secara bersama-sama untuk melawan penindasan dan memperjuangkan situasi kerja dan kesejahteraan yang menjadi hak, melawan ketidakadilan-kesenjangan antara laki-laki dan perempuan, untuk memiliki kesempatan yang sama di ranah publik-kancah politik,  meraih keadilan dan kesetaraan yang berkeadilan gender. Hal tersebut tidak jauh dari kondisi saat ini untuk para perempuan buruh pabrik, perempuan pekerja rumahan, perempuan buruh gendong, dan perempuan pekerja rumah tangga.

Melihat dari sejarah Hari Perempuan Internasional adalah kebangkitan dari perjuangan buruh perempuan yang memperjuangkan hak-haknya antara lain, lingkungan kerja yang lebih baik, upah yang layak dan jam kerja yang layak.  Pada tahun 8 Maret 1857, buruh perempuan pabrik garmen di New York melakukan aksi protes terhadap situasi kerja yang tidak manusiawi,  upah yang rendah, dan jam kerja yang panjang tidak berbatas. Kemudian pada tanggal 8 Maret 1908, sekitar 15 ribu buruh perempuan New York menuntut lagi  jam kerja yang normal dan adanya hak suara. Pada momentum sebelum Perang Dunia ke-2, berbagai gerakan perempuan internasional secara serempak bersepakat memperingati Hari perempuan pada tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional dengan tuntutan lebih luas yaitu menentang perang dan menuntut perdamaian dunia.

Perserikatan Bangsa Bangsa menetapkan tanggal  8 Maret,  sebagai Hari Perempuan Internasional.  Ditentukannya tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional (Internasional Women’s Day/IWD) merupakan sejarah panjang dan penting bagi gerakan perempuan, khususnya gerakan perempuan pekerja (buruh perempuan). Setiap tanggal 8 Maret menjadi penanda bagi perjuangan hak-hak perempuan sudah sejauh mana kaum perempuan mendapat keadilan.

Maret 2018 menjadi refleksi bagi kita sudahkah para perempuan pekerja mendapatkan hak-haknya atas situasi pekerjaan dan penghidupan yang layak? Masihkah ada diskriminasi terhadap perempuan pekerja? sudahkah perempuan pekerja memiliki kedudukan yang sama di dalam hukum dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan hajat hidup mereka sebagai warga negara, perempuan, dan pekerja?

Sajian di ruang sosial ekonomi membagikan informasi situasi pekerja perempuan yang mendapatkan perlakuan dan situasi tidak layak oleh pemberi kerja, lingkungan-masyarakat, negara dan bahkan keluarga. Bagaimana para pekerja perempuan memperjuangkan hidup keluarganya dengan upah yang sangat rendah, tidak ada jaminan sosial, dan perlakuan diskriminatif.

Sajian di ruang politik dan hukum mengulas partisipasi perempuan pekerja dalam pengambilan keputusan baik di tingkat RT/RW, desa, sampai tingkat yang lebih tinggi yaitu negara. Bagaimana perempuan-perempuan ini mendapatkan kesempatan atau memiliki ruang publik? Seperti apa peran dan kontribusinya dalam keberlanjutan jalannya perekonomian di sebuah keluarga dan negara.

Selamat bekerja, berkarya, berjuang untuk perubahan yang berkeadilan dan kesetaraan…..

(Redaksi)