Bulan Februari sampai Juni, biasanya hampir setiap bulan selalu ada momen yang diperingati bersama. Di antaranya Hari PRT Nasional di 15 Februari dan tentu saja, di 8 Maret Hari Perempuan Internasional. Sebentar lagi Hari Kartini dan May Day.

Seperti latar belakang Hari Perempuan Internasional dan untuk apa kita memperingatinya, menjadi perhatian tersendiri bagi kami PRT. Sedemikian besar persoalan dihadapi perempuan di berbagai belahan dunia, di semua negara, kota, hingga keluarga. Perempuan di manapun, apapun pekerjaannya, apapun pilihan hidupnya masih mengalami diskriminasi dan kekerasan. Seperti juga halnya kami Pekerja Rumah Tangga yang mengalami diskirminasi dan kekerasan dalam berbagai bentuknya. Untuk mengubah situasi membutuhkan kekuatan besar. Perlu solidaritas dan gerak bersama untuk mengakhirinya. Tidak bisa sendiri. Perlu diingat persoalan perempuan sebab musababnya sama. Maka buat kami, setiap momentum, PRT harus aktif ambil bagian.

Apapun dengan segala keterbatasan, itu harus!

Jumlah kami PRT yang berorganisasi dan mengenal arti hari-hari penting sangat sedikit. Dari jutaan PRT di Indonesia, yang berorganisasi di berbagai kota baru 5000an. Dari 5000an, yang aktif kemungkinan baru 35%. Nah “PR” kami di awal bagaimana bisa menggerakkan semua yang 35% untuk ambil bagian dalam gerakan bersama. Bukan hanya soal angka, tapi ada artinya.

Artinya, angka itu gambaran pengorganisasian, memunculkan keberanian bersuara, bernegosiasi. Kami PRT harus negosiasi dengan berbagai pihak, bisa dari keluarga dan terlebih bos. Kita harus cari strategi.

Nah, sementara kami sepakat bahwa di Hari Perempuan, kami bergabung dalam 2 aksi bersama. Yang satu dengan rangkaian aksi Women March. Kalau yang di Jakarta dari tanggal 10 Februari dimulai dengan nonton bareng Film Cart dan Diskusi, Konferensi Pers 1 Maret dan Aksi Women March 3 Maret.

Yang satu lagi bersama dengan kawan-kawan Pokja Buruh Perempuan bersama FBLP, Perempuan Mahardika di 8 Maret 2018. Bagi hampir semua kawan-kawan PRT, sekalipun tanggal 10 Februari dan 3 Maret adalah hari Sabtu, mayoritas di hari itu PRT masih bekerja. 8 Maret jatuh pada hari Kamis, pas hari kerja.

Bagaimana ambil bagian, semua dibahas bersama.

2 Reporter kami, kebetulan Siswati sebagai pembicara dalam Konferensi Pers Women March dan Leni Suryani bertugas sebagai salah satu orator dalam Women March 3 Maret menuturkan cerita dari lapangan yang kami bagi kepada kawan-kawan.

***

1 Maret 2018: Konferensi Pers Women March Jakarta

Konferensi Pers 1 Maret mengawali Aksi Women March Jakarta 2018. Women March tahun ini bertema besar Gerakan Melawan Kekerasan Berbasis Gender atau singkatnya #LawanBersama
Tahun ini, aksi Women’s March Jakarta (WMJ) secara lebih spesifik menyorot isu kekerasan berbasis gender. Tema ini didasari tingginya angka kekerasan, diskriminasi terhadap perempuan, menyoroti berbagai persoalan. Termasuk penghapusan perkawinan anak, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga. Tentang hak pekerja, termasuk hak upah, jaminan sosial, kebebasan berserikat, serta hak reproduksi bagi perempuan pekerja, baik pekerja pabrik, pekerja rumah tangga, pekerja migran, pekerja rumahan, pekerja media.

Ada 9 perempuan pembicaradalam Konferensi Pers di Komnas Perempuanyang mewakili berbagai persoalan. Antara lain, Siswati, Pengurus PRT dari Operata Sedap Malam, JALA PRT mewakili Pekerja Rumah Tangga, Anis Hidayah dari Migrant Care tentang Buruh Migran, Mariana dari Komnas Perempuan, Yuli dari Arus Pelangi, Mimi dari Koalisi Perempuan Indonesia menyampaikan tentang pencegahan Perkawinan Anak, Asni dari Apik, Ira dari HWDI, Ika dan Nayla dari LBH Masyarakat sekaligus Panitia Women March.

Dalam kesempatan tersebut, saya Siswati mewakili JALA PRT menyampaikan data jumlah PRT menurutILO 2015, ada sebanyak 4,2 juta PRT di Indonesia yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebanyak 10%adalah PRT usia anak yakni dibawah 18 tahun dan 90% PRT dewasa, yakni usia diatas 18 tahun. Jutaan PRT ini belum diakui pula keberadaannya oleh pemerintah dan DPR. DPR dan Pemerintah tidak membahas dan tidak mengesahkanRancangan Undang-Undang Perlingungan PRT.

Menurut kami, selama ini masyarakat dan majikan kerap memandang rendah profesi PRT.Kondisi PRT sama diseluruh Indonesia. Jam kerja panjang. Apalagi PRT yang menginap, jam kerjanya tak terbatas dan jarang libur. Sering jam kerjanya yakni dari pukul 4.00-22.00 WIB.

Saya menyampaikan di konferensi pers:

“Tidak hanya itu, penghasilan juga amat rendah, yakni sekitar Rp.800.000,- hingga Rp. 1.000.000,- perbulannya. PRT tidak miliki jaminan kesehatan, sehingga kalau kami sakit maka biaya berobat ditanggung sendiri atau berhutang ke majikan kalau boleh dan kemudian potong gaji.
Sementara PRTsama seperti pekerja lainnya, yang sama-sama mencari nafkah untuk hidupi keluarga.

“Kami itu pekerja, bukan pembantu. Kalau tidak ada kami PRT, majikan juga bingung kalang kabut. Siapa yang akan bersihkan rumah, memasak dan mengasuh anaknya? Mengapa kami PRT dipandang rendah?. Kami tidak boleh berorganisasi.

PRT rentan kekerasandan kami PRT butuh perlindungan yang jelas, UU Perlindungan PRT.”

Informasi dari Siswati dan pantauan kami, pesan dari Konferensi Pers Women March ini banyak diliput dan diberitakan media massa.

Semua persoalan yang disampaikan pembicara baik tentang perkawinan anak, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual bisa terjadi pada siapapun, Termasuk kita PRT yang sebagian besar perempuan. Banyak PRT yang hingga sekarang di wilayah tertentu dipaksa menikah pada usian kurang dari 18 tahun. Akibatnya terjadi masalah pada kesehatan reproduksi dan perceraian juga. Masalah kekerasan seksual bisa terjadi rumah, di tempat umum. Itu mengapa UU Pengahapusan Kekerasan Seksual sangat penting. Semua bentuk kekerasan terhadap perempuan harus dilawan.

Semoga suara-suara perempuan semakin bertambah, dan semakin terdengar menyebar di mana-mana, persoalan kami, persoalan semua perempuan diketahui dan banyak warga bergabung mendukung.

***

3 Maret 2018: Women March Jakarta Yang Kedua, Kali Ini Lebih Banyak Kawan PRT Bergabung

Begitu informasi kami dapatkan, bahwa kami bergabung aksi jaringan. Kami bersiap. Pertama, Semua digerakkan untuk ambil bagian dalam gerakan. Kedua, kami organisasi PRT harus membagi tugas di dalam aksi.

Women March Jakarta, Sabtu 3 Maret 2018 ini adalah Women March yang kedua bagi kami PRT di Jabodetabek. Women March 2017, kami 15 orang yang bergabung.

Sabtu 3 Maret 2018, kami bertekad harus lebih banyak. Kan jumlah anggota bertambah, sudah seharusnya yang ikut aksi juga bertambah. Kami mulai mennginformasikan ke anggota dan kemudian menggerakkan kawan-kawan untuk bernegosiasi dengan bos. Negosiasi untuk libur, atau masuk siang atau tukar hari kerja. Yang penting ikut aksi. Target kami, minimal 75 kawan PRT.

Setelah cek dan negosiasi sana sini, akhirnya ada 81 kawan PRT bisa bergabung di Women March Jakarta.

Aksi Women March Jakarta tahun ini diikuti berbagai organisasi dan kalangan warga serta jaringan. Ada dari pelajar mahasiswa, dosen, lsm, organisasi perempuan dan pekerja/buruh, kelompok minoritas.

Kami berkumpul di halaman depan Hotel Sari Pan Pacific, Jl. Thamrin. Dari Pkl. 6 pagi kawan-kawan PRT dan kawan-kawan dari berbagai kalangan mulai berdatangan. Kami berseragam seperti biasa, kaos merah atau hitam bertuliskan PRT = Pekerja Rumah Tangga dan pesan di bagian belakang, “Yang Diperas Cuciannya, bukan PRT-nya”.

Hampir semua dari rombongan kami, dari wilayah Jabodetabek Jakarta Selatan, Pamulang, Ciputat, Depok, Parung, Citayeum, Bintaro, Pondok Ranji, Ciledug, Cipulir. Rata-rata mereka berangkat pukul 5.30 pagi dengan angkutan umum. Ada juga yang berkonvoi dengan sepeda motor.

Ketika sampai di halaman titik kumpul, semua terlihat gembira, antusias dan semangat bersiap untuk Aksi Women March. Kawan-kawan juga membawa bekal makanan dan minuman untuk dibagi bersama.

Kawan-kawan PRT juga bertambah gembira dengan bergabung dengan berbagai peserta aksi dari beraneka kelompok dengan pakaian dan atribut aksi, serta pesan di poster yang bagus-bagus. Dari situ kita saling mengenali berbagai persoalan yang ada dalam pesan poster. Karena persoalannya banyak maka tak heran bunyi pesannya juga macam-macam. Tapi intinya melawan kekerasan dan diskriminasi.

Pesan-pesan di banyak poster dan tentu saja di kaos seragam kami, mewakili 8 Tuntutan Bersama dari Women March Jakarta 2018 yang bertema “LAWAN BERSAMA KEKERASAN BERBASIS GENDER”.

8 Tuntutan Women March tersebut:
1. Menuntut pemerintah untuk menghapus hukum dan kebijakan yang diskriminatif dan melanggengkan kekerasan berbasis gender.
2. Menuntut pemerintah untuk membuat hukum dan kebijakan yang suportif yang berbasis kekerasan dan gender.
3. Menuntut pemerintah dalam akses keadilan dan pemulihan bagi korban kekerasan.
4. Menghapuskan stigma dan dikriminasi terutama kelompok dalam status kesehatan seperti HIV dan narkoba.
5. Menuntut pemerintah untuk menyelesaikan akar dari kekerasan berbasis gender yaitu yang memiskinkan perempuan.
6. Menghentikan intervensi negara terhadap tubuh dan seksualitas warga negara.
7. Menghapuskan praktik dan budaya kekerasan gender.
8. Mengajak masyakat untuk berpartisipasi aktif menghapus kekesaran berbasis gender.

Sekitar pukul 8an, sudah 1500an lebih massa aksi berkumpul termasuk kami rombongan PRT bertambah menjadi 84 mulai berbaris. Kami berbaris di bagian depan bersama peserta yang membawa anak-anak. Di bagian paling depan para orator dan samping kami ada para Panitia Women March yang mengawal dan memimpin barisan aksi. Juga ada para polisi yang membantu mengawal barisan dan mengatur lalu lintas.

Pukul 8an lebih barisan aksi mulai berjalan dari trotoar depan Hotel Sari Pan Pacific, mengikuti jalannya mobil komando. Sepanjang perjalanan, orator perwakilan dari berbagai organisasi menyampaikan persoalan dan pesan-pesannya. Kadang kami berhenti pada titik-titik tertentu untuk mengatur barisan.

Saya sendiri, Leni, mewakili JALA PRT bertugas orasi menyampaikan bahwa PRT adalah Pekerja sama seperti yang lainnya. Selama ini PRT bekerja mengalami diskriminasi dan rentan kekerasan. Kami membutuhkan situasi kerja layak dan perlindungan. Kami menuntut UU Perlindungan PRT dan Ratifikasi Konvensi ILO 189.

Selama perjalananan, gembira rasanya, melihat merah hitamnya kaos kawan-kawan PRT yang nampak banyak. Sudah bertambah kawan-kawan yang bergabung.

Akhirnya kami sampai pada di Taman Aspirasi Monumen Nasional Jalan Medan MerdekaBarat, Jakarta.Massa aksi berkumpul, dan kemudian lanjut dengan berbagai orasi dan juga berbagai tampilan dari pembacaan puisi, musik.Kami para PRT berkumpul sambil mendengarkan orasi dan tampilan-tampilan tersebut.

Menginjak pukul 10an, kawan-kawan PRT beberapa pamit karena harus kembali bekerja.
Hari yang sungguh menyenangkan, karena kami bisa mulai bernegosiasi sehingga bisa ikut ambil bagian dalam gerakan aksi ini.

Pada hari Kamis, 8 Maret 2018 tepat Hari Perempuan Internasional, kami kawan-kawan PRT bergabung dengan Aksi bersama kawan-kawan Pokja Buruh Perempuan di DPR RI. Yang bergabung tidak sebanyak pada tanggal 3 Maret. Namun dari perwakilan sekitar 25an ada wakil bergantian menyampaikan orasi.

Sebagai informasi pula, kawan-kawan PRT di organisasi SPRT Tunas Mulia di DIY, SPRT Merdeka di Semarang dan SPRT Paraikatte di Makassar juga semangat dan ambil bagian dalam aksi Hari Perempuan Internasional di berbagai kota.

Semoga seiring dengan pengorganisasian, anggota organisasi bertambah dan bertambah pula yang ambil bagian dalam aksi bersama. Persoalan kami semua sama dan harus disuarakan bersama. Hentikan diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan di mana pun.

Mari bersiap untuk MAY DAY….

Rep. Siswati – Operata Sedap Malam Jakarta, Leni S – SPRT Sapulidi DKI Jakarta