Laporan Khusus Liputan Tungku Menyala Seminggu Sebelum hingga Sesudah Lebaran

 

Lebaran, bagi umat Muslim biasanya menjadi waktu yang dinantikan. Hiruk pikuk dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri – Lebaran selalu mewarnai setiap tahunnya. Orang-orang yang selama ini bekerja dan tinggal diperantauan, berbondong-bondong mempersiapkan diri untuk merayakan di kampung halaman bersama keluarga besar, kerabat dan handa taulan sambil bermostalgia. Demikian pula yang tidak perantau juga bersiap untuk merayakan bersama sanak keluarga handai taulan di kotanya. Semua bersibuk ria, mempersiapkan segala sesuatunya.

Tidak ketinggalan dari sebagian besar dari 4,2 juta kawan-kawan PRT di Indonesia, termasuk sebagian besar dari 1,7 juta PRT di Jabodetabek adalah perantau, pendatang. Tungku Menyala berkesempatan melakukan wawancara dengan belasan kawan-kawan PRT baik yang mudik dan yang tidak mudik di Jabodetabek dan di Yogyakarta. Yang di Jabodetabek dan mudik, ada Nanik, Kastini, Mbak Sukini, Rina, Mbak Kanthi, Winarsih, Sutinah, Mbak Lilik, Mbak Harti, Miskem. Yang tidak mudik, ada Mbak Sayem, Mbak Adiati, Mbak Misgi, Sunarti, Mbak Ponitiara, Mbak Rahayu, Mbak Winarni. Semua yang disebutkan berasal dari DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur. Kemudian Cyah dan Mbak Elly dari Banten, Thia dari Bekasi, Mbak Oom dari Lampung dan paling jauh Salbiah dari Maluku. Dari Yogya, ada Mia dari Temanggung dan  Artanti dari Gunungkidul. Sebagai informasi kawan-kawan PRT tersebut semua adalah pencari nafkah utama, tulang punggung keluarga.

Semua dilanda  demam Lebaran. Rencana, bayangan apa yang nanti dilakoni di Lebaran mungkin selalu ada dalam pikiran di H-30 bahkan H-60. Persiapan demi persiapan dilakukan, dari yang heboh hingga yang slow-slow saja. Dari yang tegang, stress, berdebar hingga yang rilek-rilek saja.

Lha mengapa kok pakai tegang, stress, berdebar segala?  Ya macam-macamlah sebabnya. Tapi yang paling pokok kok dari kebutuhan lebaran, ada 2 hal. Nomer  satu, yang pasti duitlah, harus banyak.

Salah satu kawan PRT di SPRT Sapulidi yang mudik ke Gunungkidul, Kastini berujar, “Kalau ngomongin Lebaran pasti hubungannya dengan uang, ha ha ha”. Pusing memang, tapi ya dibuat ketawa saja, daripada tambah stress.

Yang jelas dari meliput  semua tetek bengek persiapan hingga hari H dan sesudahnya dari kawan-kawan PRT sungguh mengasyikkan, penuh dengan semangat dan haru biru. Semua dengan perjuangan berat dan besar, yang habis dalam sebulan, tapi nikmat gembira dengan kenangannya tiada tara. Karena Lebaran adalah ajang. Ajang berkumpul, berjumpa,  sungkeman, bersentuhan, berpelukan, tangis dan gelak tawa menjadi satu, sebagai bagian dari lembar perjalanan hidup yang momennya tak bisa disetel ulang.

Ongkos yang Besar

Demi Lebaran, kalau jelang waktunya, semua dibela-belain. Ongkos buat Lebaran bukan main besarnya terlebih yang mudik dan punya keluarga berjumlah banyak. Ini yang bikin stres banget. Apalagi pas Lebaran berbarengan dengan kenaikan kelas atau kelulusan Sekolah. Bagi yang berkeluarga dengan anak usia Sekolah, stresnya bisa berkali lipat.

Dari wawancara Tungku Menyala ke kawan-kawan PRT berapa besaran ongkos yang harus ada untuk Lebaran, jawabannya beragam,  tapi minimal antara 2 sampai 3, bahkan 4 kali upah sebulan. Lha apa saja kebutuhannya?  Semua menjawab sama, ongkos transportasi yang pasti naik pas musimnya, uang untuk orang tua, uangsalam tempel atau angpau, baju Lebaran, konsumsi masak dan makanan selama Lebaran, oleh-oleh untuk keluarga,  uang saku jajan dan jalan-jalan, oleh-oleh kembali ke perantauan, dan pengeluaran tak terduga.

Beragam besaran ongkos ditentukan mudik tidaknya, jauh dekat kampung halaman mudiknya, jumlah anggota keluarga dan kerabat serta tetangga dekat, lamanya mudik.

Ketika ditanya mana pengeluaran terbesar, semua menjawab untuk transportasi dan uang amplop, salam tempel atau angpau dan berikutnya konsumsi makan selama mudik.

Ongkos Transportasi

Transportasi dengan kendaraan umum, pilihannya sebagian besar bis, travel,  kereta dan ada juga motoran.  Yang dengan sewa mobil atau mobil sendiri bisa dihitung dengan jari.  Semakin jauh kampong halaman, maka makin berat di ongkos. Tinggal kalikan kalau dengan suami, anak beranak jadi totalberapa.

Menurut Nanik yang pulang naik bis ke Nganjuk, Jawa Timur, “Ya, Lebaran memang sangat mahal sekali.Semuanya serba naik dan super mahal. Contohnya untuk transportasi saja yang biasa bis harga Rp. 350.000,- menjadi Rp. 860.000,-. Ongkos naik  bis Lebaran ke Nganjuk Jawa Timu untuk satu kali berangkat  Rp. 860.000,-  jadi untuk pp sebesar Rp. 1.720.000,-. Belum termasuk ongkos dari rumah ke terminal dan dari terminal ke desa.  Ya sekali jalan kurang lebih Rp. 1.000.000,- lah.”

 Makanya Nanik berencana balik ke Jakarta dengan cara motoran dengan suaminya yang menyusul bawa motor. Itu baru Nanik yang pulang sendirian, karena kedua anaknya sekolah dan tinggal bersama keluarga kakaknya di Nganjuk.

Rina dari Pasuruan, Jawa Timur yang mudik bersama suami ke Magetan, kampong suaminya, mengatakan “Saya untuk ongkos bis Jakarta – Magetan Rp. 500.000,- per orang. Berdua dengan suami jadi Rp. 1.000.000an. Belum ongkos ke dari Magetan ke Pasuruan ke desa saya. Pokoknya lebih dari Rp. 2.000.000an lah”

 Beberapa kawan PRT yang pulang ke seputar Tegal, Brebes Jawa Tengah banyak yang menggunakan travel atau bis sekitar Rp. 300.000an. Untuk yang ke  Solo, Wonogori, Wonosari, Gunungkidul sekitar Rp. 450.000 – Rp. 500.000an. Semua sekali jalan. Jadi kalau pp satu orang dengan tambahan transportasi local rumah ke terminal, terminal ke desa ya berkisar Rp. 700.000 sampai Rp. 1.200.000.

Kalau sewa mobil karena membawa anak-anak kurang lebih sama mahalnya 5 hari kurang lebih Rp. 2.500.000 belum terhitung bensin.

Rata-rata membutuhkan ongkos transportasi pp Rp. 1.000.000 – Rp. 2.000.000 untuk 1 orang. Kalau berdua dengan suami ya Rp. 2.000.000 – Rp. 4.000.000,-. Bayangkan saudara-saudara …

Belum Salbiah yang dari Maluku untuk ongkos dia membutuhkan minimal Rp. 6.000.000 pp.

Itu baru transportasi.

Uang Lebaran, Salam Tempel

Nah, lagi yang butuh dana banyak, yaitu uang amplop untuk orang tua, mertua atau yang dituakan, uang salam tempel atau angpau Lebaran.  Ini tergantung jumlah orang tua, jumlah anggota keluarga, kerabat dan bahkan hingga tetangga terdekat pun ikutan.

Rata-rata untuk orang tua dan mertua, mereka memberikan Rp. 500.000an  -Rp. 1.000.000. Ada yang ke si Ibu sendiri ke ayah sendiri.  Kalau dengan mertua jadi Rp. 1.000.000 – Rp. 2.000.000.

Kastini mengatakan, “Buat Mamake Rp. 1.000.000,-, buat Bapake Rp. 500.000,-“

Sutinah, “Kalau ortu Rp. 1.000.000,-, kalau mertua Rp. 500.000,-“

Miskem yang pulang Kebumen,  “Bapak sama Ibu, masing-masing Rp. 1.000.000, jadi ya Rp. 2.000.000,-“

Selain itu rata-rata menjawab, sebenarnya tergantung situasi tapi minimal Rp. 500.000,- buat orang tua.

Kemudian untuk salam tempel,  kawan-kawan PRT membaginya untuk sesepuh, missal Bude, Pakde, Bulik, Paklik, saudara kandung, sepupu yang tidak mampu, anak-anak keponakan, cucu dan lalu anak-anak kerabat dan tetangga terdekat serta anak yatim di kampong halaman. Besarannya salam tempel berbeda-beda, untuk anak-anak biasanya tergantung usia sekolah dan jauh dekatnya hubungan.

 “Buat para sesepuh keluarga Bude Pakde Lik ada Rp. 50.000an, ada juga yang Rp. 100.000an. Buat ponakan Rp. 50.000an plus baju baru. Angpau buat anak-anak tetangga sekitar Rp. 20.000an”, kata Kastini sambil memperlihatkan amplop Lebaran bergambar kartun dan warna warni yang sudah dia tata rapi dan dikelompokkan.

Sutinah, “Saya sih kalau ponakan sudah gede Rp. 100.000an”

Miskem, “Ponakan per orang Rp. 100.000,-. Saudara sepupu yang masih remaja Rp. 50.000,. Anak-anak  tetangga Rp. 20.000,-“

“Kalau saya yang SMA Rp. 50.000,-, yang kecil Rp. 20.000,-, anak tetangga Rp. 10.000,-“ kata Mbak Winarni yang berasal dari Semarang.

Nanik,  “Untuk tetangga yang sudah tua Rp. 20.000,-, untuk anak-anak mulai dari Rp. 5.000.-“

Lilik S yang berasal dari Ponorogo, “Kalau saudara dekat sekitar Rp. 30.000 sampai Rp. 50.000. Saudara jauh Rp. 20.000,-. Anak-anak tetangga Rp. 10.000,-“

Mbak Sukini, “Biasanya masih saudara Rp. 50.000,-. Anak-anak Rp. 10.000,- sampai Rp. 20.000,-“

Oom, “Ortu Rp. 2.000.000 bagi 2, kalau ponakan yang gede Rp. 50.000 – Rp. 100.000, yang kecil Rp. 30.000,-“

Jadi kalau jumlah saudara, ponakan dan kerabat banyak maka yang dikeluarkan juga sangat besar.

Kalau dirata-rata total besaran uang Lebaran untuk orang tua, mertua, salam tempel anpau berkisar antara Rp. 1.500.000,- sampai Rp. 3.000.000,-. Besarnya bisa antara 1,5 sampai 2 kali gaji perbulan.

Ketika ditanya, apakah salam tempel atau angpau keharusan?  Bagaimana kalau  tidak memberikan salam tempel, hanya memberikan uang untuk orang tua dan mertua saja?  Mengingat jumlahnya yang besar dan hingga habis gaji sebulan bahkan lebih.

Jawabannya semua sama, sesuatu yang diusahakan ada.

Winarsih, “Ya sepertinya nggak mungkin kalau ndak ngadain. Pas Lebaran, setiap orang yang datang dari perantauan orang rumah tahunya ponakan itu dapat pakaian 1 setel plus salam tempel.”

Lilik, “Sepertinya sudah menjadi tradisi” yang diamini oleh  kawan-kawan lain. Sepert Mbak Ajeng, “Salam tempel sudah tradisi”

“Anak kecil udah pada tahu kalau Lebaran ada THR”, Mbak Kanthi yang dari Purwodadi menimpali.

Miskem,  “Kurang afdol kalau ndak ada salam tempel, karena buat saya pribadi Lebaran adalah saatnya berbagi”

Kastini malah bilang, “Walah nggak bisa kalau tanpa salam tempel. Jangankan Lebaran yang tradisinya wajib ada salam tempel dan baju baru, wong pas mudik biasa juga ada salam tempel, cuma nggak sebanyak yang dikasih seperti Lebaran.”

Sukini, “Lebaran, tradisinya kasih mengasih. Saya di Wonogiri, kalau Lebaran ke tempat saudara yang sawahnya lebar  sayamalah masih dikasih salam tempel.”

Contoh aja barusan anak saya mau pulang dapat salam tempel, otomatis saya pamitan balikin salam tempel, ha ha ha.” timpal Winarsih.

 Baju Lebaran

Pengeluaran lain, semua mengatakan hal yang sama pula. Untuk beli baju Lebaran, anak, orang tua dan saudara di kampong.

Anak, ponakan masing-masing minimal 1 setel. Untuk orang tua dan sesepuh, dibelikan kain batik,mukena, sarung, sandal, kopiah. Biasa belanja di Tanah Abang atau Cipulir, pokoknya yang harganya miring.Paling untuk baju Lebaran, keluar dana sekitar Rp. 1.000.000,- sampai Rp. 1.500.000,-.

 

Oleh-Oleh, Konsumsi Belanja Harian, Rekreasi Bersama

Pengeluaran lain yang penting juga adalah untuk konsumsi selama Lebaran di kampung. Apalagi kalau di rumah orang tua. Ya harus iuran juga untuk makan sehari-hari di sana. Apalagi harga makanan naik di Lebaran. Kalau 10 hari di kampong ya bisa hingga Rp. 1.000.000 sampai Rp. 1.500.000 apalagi kalau keluarganya banyak.

Thia mengatakan, “Pengeluaran  yang besar juga untuk baju, bekal, oleh-oleh, jajan dan rekreasi bareng anak-anak dan saudara.”

Oom sambil memperlihatkan persiapan barangnya mengatakan, “Uang untuk Lebaran dipakai untuk menyumbang anak yatim dan fakir miskin,  janda, kedua orang tua, berbagi dengan keponakan, bekal, kebutuhan sehari-hari di sana, jajan, rekreasi jalan-jalan.”

Nanik, “Uang saya habis untuk  transportasi, bekal, oleh-oleh, konsumsi makanan, jajan, rekreasi dan sebagainya di kampong.”

Sama juga dengan Mia yang dari Yogyakarta pulang ke Magelang, “Saya mengeluarkan biaya tidak sedikit. Misal untuk biaya transportasi, oleh-oleh, konsumsi, makanan,  berwisata dengan keponakan. Saya masih agak ngirit ketika mudik-pulang kampung dengan menggunakan kendaraan-motor sendiri.”

 

Total Kebutuhan Dana – Pengeluaran

Menurut kawan-kawan ongkos Lebaran bisa 2 hingga 5 kali gaji sebulan, ya tergantung besaran gaji perbulan. Karena gaji-pendapatannya perbulan juga beragam antara Rp. 2.500.000,-  sampai Rp. 5.000.000,- dengan catatan bahwa ada beberapa PRT yang bekerja part time lebih dari 1 majikan, dengan 1 majikan rata-rata Rp. 1.250.000 – Rp. 1.500.000,-

Semua dana yang  dibutuhkan untuk berlebaran dengan mudik kalau ditotal jumlahnya dari transportasi, uang Lebaran, salam tempel, oleh-oleh, konsumsi belanja harian di kampung, jajan, rekreasi bersama berkisar antara Rp.  5.000.000 – Rp. 10.000.000-an. Dengan catatan, kata teman-teman, Rp. 5.000.000 itu semepet-mepetnya dan jarak kampung halaman masih di tengah Jawa Tengah dan keluarga sedikit, pulang sendirian.

Mbak Kanthi yang pendapatannya kurang lebih UMR, “Kalau saya mungkin 2 kali gaji sebulan”

Kastini, “ Gaji sebulanama THR udah pasti ludes. Mudik pp transportasi 2 x lipat, beliin baju anak, ponakan-ponakan, ortu dan salam tempel se RT”

Mbak Adiati, “Kalau saya anak dua, saya dan suami  mau ke mertua dan langsung keJawa Timur ke desa saya, bisa habis Rp. 10.000.000 lebih karena 2 keluarga besar. Makanya kalau nggak ada simpanan yang cukup mending nggak pulang.”

Lilik S, “Syukur Alhamdulillah kalau saya seringnya pulang kampung dipinjami mobil bosnya suami. Tapi liburnya cuma seminggu. Jadi  kurang lebih saya habis Rp. 6.000.000an.”

Mbak Sukini, “Rp. 10.000.000  ludes, itu yang saya sudah alamin setiap Lebaran”

Yang dekat saja seperti Mbak Thia yang dari Bekasi, pengeluarannya juga besar, “Total biaya yang saya habiskan untuk semuanya keperluan mudik Lebaran, dari transportasi, bekal, oleh-oleh, konsumsi makanan, jajan, rekreasi Rp. 10.000.000,- kurang lebih.”

“Sebenarnya kalau Lebaran kita nggak sadar bral-brol bral-brol keluar uang ini itu. Nah sadarnya setelah Lebaran. Tapi ya itu udah lumrah, namanya juga Lebaran setahun sekali,” ujar Winarsih.

Mbak Sayem, “Lebaran, semua harga naik, ibarat ngumpulin  setahun habis selebaran uang habis di Lebaran. Tapi ya memang kita ngumpulin uang salah satunya untuk Lebaran.”

Oom, “Wah itu upah 1 bulan gaji dan juga THR satu bulan gaji dari kerja di 2 rumah, kira-kira Rp. 10.000.000.”

Bagaimana dengan Salbiah yang kampungnya di Maluku?  “Kalau saya pulang bisa habis Rp. 20.000.000an butuh 4 sampai 5 tahun nabung plus gaji akhir dan THR. Bisa pulang 3 tahun itupun dengan catatan tidak kirim uang bulanan ke kampong. Saya kadang 4 tahun tidak pulang. Karena memang mahal. Untuk transportasi saja pp bisa Rp. 6.000.000 dan apalagi dari kota saya masih harus ke desa. Terus keluarga saya juga banyak, ponakan saya banyak.”

Yang tidak mudikpun bukan berarti sedikit pengeluaran. Karena mereka juga mengeluarkan uang Lebaran untuk orang tua, saudara, membeli baju Lebaran untuk anak, konsumsi makanan Lebaran. Tidak sebanyak yang mudik, namun tetap saja besar.

Contohnya, Mbak Misgi yang tidak mudik pas Lebaran,  “Biasanya Lebaran mudik ke solo dan temanggung. Tahun ini tidak mudik karena menghemat ongkos untuk membayar kuliah dan anak sekolah.  Tapi sekalipun ndak mudik, saya juga keluar uang Rp. 4.000.000an untuk makanan, baju anak, kue Lebaran, uang anpau termasuk ngirim uang ke ortu.”

Sama juga dengan Salbiah juga yang kirim uang ke ortu untuk Lebaran. Beberapa kawan mengatakan kalau tidak mudik mungkin keluar uang sekitar Rp. 4.000.000an karena memang belanja Lebaran lebih mahal dari biasa dan kirim uang ke orang tua juga lebih besar dari biasanya.

Banyak juga kawan-kawan lain tidak mudik Lebaran karena sekalian mudik Lebaran Haji (Idul Adha) seperti Sunarti Santi yang dari Madura, ada yang sekalian nanti hajatan keluarga di minggu Syawal berikutnya, atau memang ada prioritas lain seperti kebutuhan sekolah anak, seperti Mbak Misgiyati. Ada kawan-kawan tidak mudik karena orang tuanya sudah tinggal di Jabodetabek. Dan bahkan dari banyak yang tidak mudik  kemudian menggunakan waktunya kerja infaluntuk tambahan pendapatan,seperti Bu Mujirah dari  Operata Pondok Cabe, Mbak Sayem, Sunarti dan Yuni.

Lantas, bagaimana dengan mencari dana demikian besar? Semua kawan-kawan mengatakan dari gaji bulanan dan THR dan ditambah kalau ada tabungan sedikit. Banyak juga yang pinjamkasbon ke majikan kemudian potong gaji ke depan atau pinjam gadai barang ke pegadaian.

Kalau bekerja sendirian maka beban sangat besar. Kalau bersuami dan keduanya sama-sama bekerja masih lumayan, karena uang Lebaran dari gaji dan THR berdua.

Gaji dan Harapan THR

Tentu saja untuk mendapatkan uang Lebaran, memerlukan perjuangan yang tidak mudah.Mengingatjumlah uang yang besar. Karena gaji PRT kan rata-rata di bawah UMR. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sebagian besar kawan-kawan mensiasati dengan bekerja lebih dari 2 majikan sehingga pendapatannya bisa sekitaran UMR dan itupun masih kurang.

Harapan pada THR sangat besar, dan hal tersebut sudah dihitung jauh waktu sebelumnya. Makanya harapan pada hak THR sangat besar.

“Lebaran mahal emang benar adanya, sak pol-polnya ongkos. Makanya aku nggak kebayang kalau ada PRT yang nggak dapat THR. Mana cukup ngandelin gaji doank. Gaji PRT banyak yang jauh di bawah UMR. Lebaran apa-apa 2 kali lipat,” kata Kastini.

Makanya kawan-kawan yang sudah sadar hak THR adalah 1 bulan gaji, sudah mengkomunikasikan ke para majikan sejak awal Mei. Cara mengkomunikasikannya pun tidak hanya 1 cara. Hampir semua via wa dan ditambah bicara langsung dengan majikan, kalau majikan tidak respon. Bahkan beberapa ada yang pasang gambar THR (dari kampanye JALA PRT) di profil wa ataupun di status facebook. Karenanya ada anggota SPRT Sapulidi yang katanya majikanmerespon baik langsung mau membayarkan THR para PRTnya, begitu melihat meme THR dari PRT-nya.

Tentunya tidak semua majikan sadar dan mau membayar hak THR PRT sebesar 1 bulan gaji. Ada majikan yang tidak bersedia membayar sebesar 1 bulan gaji atau hanya separuhnya, dan bahkan banyak dari penuturan PRT majikan yang hanya memberikan kain dan sekaleng biskuit sebotol sirup.  Ini seperti yang disampaikan salah 1 anggota Komisi IX DPR RI tahun lalu yang mengatakan bahwa THR PRT itu uang “belas kasih” jadi seikhlasnya majikan dan kemudian meralatnya, bahwa bekerja 2 tahun maka baru dapat THR. Aduuuh pak…. Kalau DPR sendiri tidak ada tunjangan bagaimana? Jangan-jangan para PRTnya tidak dapat THR?

Lebih parah ada PRT yang diPHK dan sama sekali tidak mendapat gaji dan THR. JALA PRT menerima pengaduan kasus 42 PRT yang tidak mendapat THR, diPHK mendadak pada bulan Mei tanpa gaji dan THR. Menurut kawan-kawan SPRT Sapulidi situasi seperti ini  terjadi tahunan khususnya PRT yang bekerja di majikan ekspatriat dari wilayah Asia Timur, karena majikan menghindar membayar THR.Sebagian  anggota ada yang langsung melapor dan didampingi oleh tim paralegal SPRT Sapulidi, JALA PRT serta LBH Apik Jakarta, akhirnya bisa mendapatkan gaji dan THR, bahkan pesangon.

Hak THR bagi PRT- dimana tidak semua orang sadar dan Negara masih tidak melindungi PRT – menjadi bagian pergelutan tersendiri dalam Lebaran.

 

Libur Lebaran, Hak Cuti Tahunan

Perjuangan mendapatkan uang untuk ongkos Lebaran yang besar, gaji, THR, kasbon, pinjam sana sini adalah 1  proses sendiri. Perjuangan lain adalah bagaimana untuk mendapatkan libur Lebaran atau sebetulnya bagian dari Cuti Tahunan yang merupakan hak. Ini bisa jadi stress yang kedua. Karena kalau majikan tidak setuju, jawabnya bisa potong gaji atau bahkan cukup sampai di sini saja.

Masak sudah ongkos besar, tapi tidak bisa dinikmati dengan waktu yang panjang.

Kita kawan-kawan “Kalau liburnya sebentar, ya ndak impaslah dengan besaran ongkos. Lagian kan perlu waktu perjalanan, kegiatan Lebaran kan macam-macam dan ditambah rekreasi.”

Pemerintah sudah mengumumkan Cuti Bersama Lebaran 2018 sebanyak  7 hari dan ditambah hari Sabtu Minggu serta 2 hari H Lebaran, maka ada 11 hari Libur. Dihitung dari tanggal 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20 Juni 2018.

Tapi meskipun begitu, bukan berarti PRT terus mudah dapat Libur Lebaran 11 hari. Apalagi dengan tambahan hak cuti tahunan. Padahal hak cuti tahunan yang 12 hari kerja pertahun itu di luar Cuti Bersama. Jadi PRT sebagai pekerja berhak untuk libur di luar cuti bersama.

Tapi namanya sudah berorganisasi, maka coba dinegosiasikan dengan membawa berita Cuti Bersama dari Pemerintah dan peraturan ketenagakerjaan, meskipun sebetulnya majikan juga sudah pada tahu. Tapi sebagian besar majikan tidak memberikan cuti tahunan.

Umumnya majikan hanya memberikan 1 minggu atau selama Cuti Bersama saja. Tapi ada sebagian yang memberikan hak cuti tahunan sehingga kawan-kawan PRT bisa berlibur hingga 14 hari.

Dari wawancara ke kawan-kawan, sebagian besar PRT memerlukan waktu libur Lebaran khususnya yang mudik selama 14 hari. Tapi karena majikan hanya memberikan waktu seminggu sampai 10 hari, jadinya kawan-kawan PRT libur hanya libur selama seminggu hingga 10 hari.

Rata-rata mudik dari tanggal 11 atau 12 Juni, kembali ke Jabodetabek tanggal 19 atau 20 Juni. Kembali masuk kerja tanggal 21 Juni.

Mia dari SPRT Tunas Mulia DIY yang pulang ke Magelang mendapat libur 10 hari. “Saya libur dari tanggal 14 Juni sampai 24 Juni. Mungkin karena dekat maka saya baru libur sehari sebelum hari H, tanggal 14 Juni 2018”

Ada kawan-kawan yang nasib liburnya lebih baik, karena majikan liburan juga, da nada majikan yang menggunakan jasa infal atau kawan-kawan yang berakhir kontrak kerjanya.

Seperti Nanik, mendapat 20 hari libur. Libur dari tanggal 1 Juni sampai 20 Juni. Masuk bekerja kembali 21 Juni.

“Waktu yang lama di kampung saya gunakan membantu kakak saya bertani ke sawah,ke kebun untuk mengambil singkong hasil tanaman untuk di masak. Berkumpul dengan kedua anak saya yang tinggal dengan kakak saya. Jadi saya manfaatkan betul,” kata Nanik.

Mbak Thia mendapat libur selama 14 hari, dia pulang ke Cikarang tanggal 14 Juni karena dekat bisa dtempuh dalam waktu 3 jam. Selama di kampung, waktunya digunakan betul kumpul-kumpul,mengobrol bersama teman saudara yang lama tidak ketemu, dan yang terpenting bisa berkumpul dengan anak-anak.

“Saya suka melakukan hal-hal positif, ngajarin anak-anak, dan mengajak rekreasi,” ujarnya.

Mbak Oom libur 10 harian, hanya  mbak Oom mudik dari tanggal 15 Juni pada hari pertama Lebaran berangkat ke Lampung, kemudian kembali ke Jakarta tanggal 22 Juni 2018.

Biasanya kawan-kawan mudik 14 hari hingga Lebaran Ketupat atau Bakda Kupat atau Syawalan,  yang jatuh 7 hari setelah hari H Idul Fitri. Jadi kembali ke perantauan tanggal 23 atau 24 Juni. Seperti Mbak Kanthi, Mbak Oom yang ikut hingga Lebaran ketupat.

Di sisi lain, ingat juga, perjuangan libur bagi yang berkeluarga juga tidak mudah. Karena bagi istri suami semua bekerja, kadang jatah libur tidak sama. Kalaupun ada PRT yang mendapat libur, bukan berarti bisa mudik. Karena suami ada yang tidak mendapat libur yang sama waktunya dan bahkan terbatas sekali.

Seperti contoh, suami anggota SPRT Sapulidi yang berasal dari Wongogiri dan suaminya bekerja sebagai Security di sebuah kompleks perumahan di Jakarta Selatan. Suaminya tidak mendapatkan cuti tahunan dan libur yang jelas. Tergantung dari ijin penghuni kompleks.

Informasi dari Pak Jayadi yang bekerja sebagai Security tersebut, “Saya tidak ada cuti tahunan, dan jika ada keperluan saya tinggal ijin ke penghuni komplek termasuk jika mudik lebaran saya harus ijin karena tidak ada libur lebaran buat Security di kompleks. Saya tidak mendapatkan cuti tahunan, apalagi menikmati cuti bersama. Karena saya dan 2 kawan saya bekerja tidak ada kontrak kerja, maka tidak bisa nuntut banyak. Security yang bekerja di komplek tersebut jika ada perlu tinggal ijin saja. Saya tahu beritacuti bersama melalui tv, dan media sosial. Lebaran tahun ini saya masuk malam dan nggak ada liburnya, dan akan diberikan uang kerohiman oleh penghuni komplek buat saya ketika lebaran masuk. Seperti yang sudah-sudah”.

Pak Jayadi menambahkan. “Saya belum menerima semua hak saya sebagai pekerja seperti yang istri saya dapatkan, karena penghuni komplek tidak menerapkan itu.  Kita yang bekerja menerima saja karena kita khawatir diphk dan kehilangan pekerjaan. Sekarang susahcari kerja, jadi saya ya terima saja”.

“Untuk tahun ini tidak ada rencana mudik ke kampung istri saya di Wonogiri Jawa Tengah, karena tahun lalu sudah mudik ke kampong. Sekarang kita Lebaran di Jakarta bersama keluarga besar saya yang asli orang Jakarta. Jadi ijin libur lebaran saya gunakan untuk silaturahmi dengan sanak saudara di sini dan anak-anak juga setuju”.

 Artinya semua perlu pertarungan tersendiri dengan segala seni perjuangannya, bagaimana mendapat uang Lebaran, dari gaji, THR dan libur cuti bersama cuti tahunan. Sungguh tidak mudah dan sering membuat perasaan tegang, cemas pula.

 

Arti Mudik, Arti Lebaran

Tantangan  biaya yang besar, cuti yang lama tidak pernah menyurutkan kawan-kawan PRT untuk bisa berLebaran untuk mudik. Mengapa?

Menurut Mia, “Rutinitas mudik lebaran merupakan suatu keharusan, karena di momen ini merupakan ajang pertemuan dengan saudara yang jarang ketemu.Bahkan hanya satu tahun sekali baru bisa ketemu, tetangga handaitaulan. Apalagi saat ini jarak antara wilayah tempat kerja dan desa saya terbilang tidak begitu jauh.” (Red – Yogyakarta tempat bekerja dan Magelang tempat tinggal orangtua dan saudaranya).

Dikisahkan Mia, dalam mengisi hari-hari Lebarannya bersama keluarga, saudara, tetangg dan handaitaulan dihari Lebaran, diantaranya: setelah sholat Idul Fitri di masjid yang tidak jauh dari rumah, Mia sungkemke ibunya(Red – Karena Bbapaknya sudah tiada)dan kakak-kakaknya. Setelah itu dilanjut kerumah saudara dari kedua orangtuanya dan tetangga sedesa yang sudah usia lanjut. Silaturahmi dilanjut dihari kedua yaitu ketempat saudara yang tinggal dilain desa dan tidak lupa silaturahmi ke ulama. Waktu yang disediakan untuk bersilaturahmi selama 4 hari. Selebihnya digunakan untuk berlibur, rekreasi ketempat wisata bersama keponakan-keponakannya.

Yang dirasakan Salbiah yang jauh sekali asalnya, “Mudik sangat dibutuhkan, apalagi kalau seperti saya yang bisa 4 tahun sekali. Kalau tidak mudik, masih suka nangis sendiri di kamar, apalagi  kalau dengar gema takbir. Bagaimanapun pasti ingat rumah, keluarga, rindu ama keluarga”

Bagi kawan-kawan semua, Lebaran memang momen yang tidak tergantikan. Ada pesan, bahwa kita tidak tahu dengan nasib umur dan rejeki. Selagi orang tua masih ada, saudara ada, uang bisa dicari, tapi kesempatan belum tentu bisa didapat lagi. Meskipun kesempatan bertemu orang tua, keluarga bisa di waktu selain Lebaran, tapi menurut mereka tetap berbeda suasananya. Di luar waktu Lebaran tidak semua anggota keluarga bisa berkumpul, karena liburnya tidak sama. Kalau Lebaran bisa berkumpul semua atau sebagian besar.

Mbak Adiati, “Senangnya bisa kumpul dan bahagia bisa ketemu, bersilahturahim karena itu yang terpenting.”

Mbak Sayem, “Betul, senang bisa ketemuan dgn keluarga yang jauh-jauh, yang bisanya ditemui hanya di hari Lebaran”

Mbak Sukini, “Demi orang tua kita pulang, selagi sempat diberi umur. Demi berkumpul keluarga  dan 1 tahun sekali  bisa ketemu teman-teman di kampung”

Mbak Lilik, “Biasanya momen berkumpul keluarga di saat Lebaran.Meskipun di perjalanan sampailebih dari 1 hari tapi  tetap Seneng dan semangat dalam perjalanan tanpa mengeluh”

 Kastini, “Karena demi anak dan orang tua kita bela-belain mudik Lebaran. Mereka ingin kita yang merantau merayakan hari kemenangan bersama. Selain juga sudah tradisi”

Sutinah,“Pingin kumpul sama orang tua dan keluarga pas momen hari raya, lagipula setahun sekali. Kalau mudik hari raya rasanya greng, beda mudik hari hari biasa”

Miskem, “Bener banget biar tekor sing penting hati happy”

Nanik,“Saya selalu mudik Lebaran terutama karena anak-anak saya di kampung, jadi saya mudik karena kasihan anak-anak. Dan saya,anak-anak, kakak saya perasaan senang dan gembira bisa Lebaran bersama keluarga di kampung”

Thia, “Saya harus mudik apalagi dekat, karena hanya momen Lebaran,sanak saudara handai taulan berkumpul di rumah ibu saya. Dari yang jauh sampai yang dekat semua berkumpul di hari Lebaran. Meskipun saya bisa ketemu ibu saya sebulan sekali, momennya tetapbeda. Beda dari hari biasa. Momen yang ditunggu selama 1, senang, bahagia”

Mbak Oom, “Saya harus mudik. Karena kedua orang tua masih ada, jadi setiap Lebaran saya sekeluarga pulang. Supaya ayah dan  ibugembira karena hari raya berbeda dengan hari-hari biasa. Kalau hari raya,  semua bisa bertemu dan berkumpul bersama. Menyenangkan bisa bertemu semua ayah, ibu, kakak, bibi, paman, uwak, semua kemenakan dan juga kawan-kawan lama semasa kecil. Pokoknya mudik sangat membahagiakan.

Melihat ayah dan ibu yang sudah keriput tersenyum aduh, sangat indahsekali, bahagia”

 Saking beratnya perjuangan mudik, maka kesempatan libur mudik di kampung dimanfaatkan betul oleh kawan-kawan bersama keluarga, saudara, teman dan tetangga di kampung untuk kumpul, anjang sana dari rumah ke rumah,  jajan, keliling kota, main ke kali, rekreasi bersama. Seperti mbak Oom, sehabis Lebaran rekreasi keluarga di Taman Way Kambas di Lampung, mbak Parsi yang rekreasi ke kali bersama teman-teman, kawan-kawan yang sebagian besar rekreasi ke alun-alun, ke bukit, apalagi sekarang banyak tempat yang dihias sebagai studio alam untuk tempat berfoto ria.

Bahkan momen Lebaran di banyak desa kawan-kawan juga sering menjadi pertemuan dan kenduri desa. Biasanya ada beberapa warga desa yang punya hajat seperti sunatan, aqiqah pas di awal Syawal. Jadi ikut memasak bersama. Tidak ada rasa capeknya, yang ada senang, puas. Ada pula yang mengadakan pertunjukkan seperti Jathilan, Reog di Wonogiri dan Ponorogo seperti di kampungnya Mbak Parsi.

Perkara besoknya lain lagi, yang penting senang-senangin dulu. Namun kawan-kawan juga bersiap dengan keperluan lain pasca Lebaran.  Apalagi kalau bukan kebutuhan sekolah anak-anak yang biayanya juga besar.  Tapi itu semua tidak mengurangi rasa gembira. Namanya sudah kewajiban orang tua.

“Habis Lebaran sudah datang blangko bayar semester univeritas anak Rp. 10.300.000” ujar Mbak Oom yang tahun ini anaknya semata wayang masuk perguruan tinggi.

Begitu pula Mbak Sukini, “Bulan Agustus anakku langsung bayar semester sekalian, wis biar nggak kepikiran. Ayo ngguyu (red – tertawa) waelah dinikmatin. Yang penting dikasih kesehatan dan bisa Lebaran anak bisa sekolah”

Selain itu, bulan Syawal adalah bulan hajatan, sebagaimana tradisi, sumbang menyumbang juga menjadi seperti kewajiban. Uangpun harus disisihkan. Minimal dalam sebulan bisa ada 5 undangan hajatan di kampung halaman ataupun di perantauan.

Kastini, “Seru, nanti gimana balik jakarta uang nipis Senin Kamis. Aku di sini belum ada seminggu sudah ada 3 undangan hajatan yang datang”

Mbak Sukini, “Apalagi mau Lebaran Haji banyak undangan. Tapi demi kerukunan bersama maka dilakukan”

Inilah seninya hidupdengan akrobat jungkir baliknya mencari dan mengeluarkan uang, mewujudkan momen kebahagian bersama.

Selamat Lebaran, Mohon Maaf Lahir Batin. Sampai Jumpa di Lebaran Mendatang. Selamat Bekerja Kembali

 

Reporter:  Jumiyem, Taang, Sargini, Leni, Dewi Korawati