diambil dari http://www.walkfree.org/hong-kong-domestic-workers/?utm_source=Subscribers&utm_medium=email&utm_content=hong-kong-domestic-workers-not-receive

Dianggapnya Wajar

Dua hari ini perbincangan di WAG  kami, para PRT, dipenuhi komentar yang tak henti tentang PRT yang di-PHK karena duduk di kursi makan majikan.

Tim Tungku Menyala memandang sangat penting untuk membahas kejadian ini untuk menjadi refleksi bersama.

Viral beritanya dari cerita  seorang majikan yang memPHK  PRT. Kebetulan si majikan ini salah satu selebgram, namanya Jovanzka pemilik akun @annabelle_josephine.

Berbagai komentar ini menunjukkan rasa sedih, prihatin, jengkel, marah atas berita yang sedang viral di berbagai media sosial dan media massa, seperti dalam link berikut :

https://www.msn.com/id-id/hiburan/celebhub/viral-selebgram-curhat-setelah-pecat-art-karena-duduk-di-kursi-meja-makannya-ini-soal-manner/ar-AAzyMO1?li=BBrVqUC&ocid=BHEA000

https://coconuts.co/jakarta/news/story-selebgram-firing-domestic-worker-sitting-dining-table-playing-phone-causes-online-outrage/

http://jatim.tribunnews.com/2018/07/04/curhatan-selebgram-pecat-art-gara-gara-duduk-di-kursi-meja-makan-viral-komentar-ini-ikut-disorot?page=all

Yang menjadi persoalan, dan sangat tidak dimengerti, adalah lagak majikan yang sepertinya bangga, berkuasa memberitakan di instagram story-nya “seketika PHK” dan alasan mem-PHK PRT-nya yang baru bekerja selama 6 hari. Alasannya bukan karena soal kerjaan atau lalai kewajiban. Tapi, soal PRT duduk di kursi makan Jovanzka. Coba toh …

Dikutip dari berita Tribunnnews, tulis akun @annabelle_josephine di instagram story-nya:

“I sent my maid back to yayasan, baru kerja 6 hari aku pulangin, why? Karena malam hari aku mendapati dia duduk di kursi meja makan aku sambil main hp.”

 “Ceritanya aku lagi habis mandi jemur handuk ke luar, biasa aku jemur di kamar tp entah kenapa kog hari itu aku jemur di luar. Pas nengok siapa tu lampu udah mati duduk di meja makan gw??? Abis jemur handuk, aku deketin, doi lagi main hp sambil cekikikan baca chat ama temen2nya. Padahal aku udah depan meja, aku speechless bengong bbrp detik kaya gatau mesti ngapain gatau mesti ngomong darimana.”

 “Me: ‘Mbaa?! Ngapain?’ (Harusnya udah sadar ya diginiin karena nadaku udah keras, tp muka masih berusaha datar. Padahal mungkin udah jutek kaya dinosaurus Jurassic World). Mba: ‘Ehh ga non, ini lucuu..hehehe’ TAPI DIA TETAP DALAM POSISI DUDUK & TETAP MAIN HP…….. aku ke kamar lgsg,” .

 Jovanzka juga merasa ART takut pada suaminya, tapi tidak padanya, tulisnya lagi.

 “Singkat cerita aku minta suami keluar, nah begitu suami keluar dia lgsg berdiri ke kamar (berarti dia ga takut sama gw dong) hahaha. OK, jam 21.45 telp yayasan langsung minta balikin & ganti baru DETIK ITU JUGA!”

“Masalah manner itu berbeda2 mgkn menurut orang, menurut saya ini ga sopan, ga semua harus setuju dengan pendapat saya. Sus duduk kog di kursi makan saya, kalau lg suapin Anna. Kalau lg packing barang banyak, di area mereka ada kursi, TV, semua ada masing2 tempatnya, jd alangkah baiknya bertanya dl. Kalo saya diem aja besok2 saya bawa ke rumah temen terus dia duduk di meja makan orang gmn? Karena dirumah ga dikasihtau, kan saya yg malu juga nanti ya.”

 Kemudian juga akun @annabelle_josephine, menceritakan, bahwa ketika dia memberhentikan PRT dan besoknya meminta PRT pulang, dia memeriksa isi tas PRTnya.

Besoknya, Jovanzka meminta PRT melepas baju seragam suster, membereskan barangnya dan mengatakan, “Abis itu buka tas kamu depan saya. Saya mau periksa sebelum pulang.”

Belum lagi ditambah, postingan Jovanzka menjelaskan PRT-nya yang bersusah payah kembali bekerja tepat waktu setelah pulang kampung.

Dia menyebut suster (PRT-Baby Sitter) tepat waktu kembali ke rumah si selebgram. Susternya sampai  berdiri  selama hampir 8 jam di bis selama perjalanan. Dia menunjukkan betapa PRT-nya takut akan majikannya.

Terlihat sekali nada sombong, pongahnya sebagai majikan.

 

Jaman Berganti: Sudah Tidak Wajar Lagi

gambar diambil dari https://coconuts.co/hongkong/features/need-stop-using-terms-maid-helper-opinion-2/

Jovanzka lupa, bahwa jaman sudah berganti, PRT bukan abdi. Mungkin dia pikir 1000% majikan masih berpikir dan berkelakuan feudal seperti dia. Dia pikir netizen akan setuju dengan cara dia memperlakukan PRT.

Nah, ternyata, bukan dukungan yang didapat, malah kritik, sikap tidak setuju atas tindakan dia.  Betul pepatah mengatakan “Mulutmu, Harimaumu”, status orang mencerminkan siapa dia.

Menurut Tribunnews, postingan Jovanzka menjadi viral setelah dijadikan thread oleh akun @sephieusagi, Senin (2/7/2018). Terhitung hingga Rabu (4/7/2018) pagi, postingan itu telah di-retweet 4,500 kali dan dilikes lebih dari 2 ribu akun.

Jaman sudah berganti, bahwa semakin bertambah yang berubah dan menyadari bahwa PRT bukanlah abdi. Meskipun masih banyak dengan sebutan ART (Asisten Rumah Tangga) bukan dengan kata Pekerja Rumah Tangga, namun mulai netizen – yang sebagian majikan – menolak cara-cara feudal majikan.

Selviana, @selphieusagi (2/7/18), “Baca curhatan seorang selebgram di Instastory-nya bahwa dia baru aja pecat ART krn ART-nya duduk di kursi meja makan sambil main HP.

 Gue yg baca jd bingung salahnya di mana. Mbaknya harus duduk di mana sih? Lantai? Trs kalo kerjaan udah kelar emg ga boleh main HP?”

Vika, @Vkkkrnl (3/718), (3/7/18), “Bagi gue ini sih hal sepele. Justru kalo dia update hal hal macam begini, keliatan banget ya arogansinya. Malah menurut gue dia malah mengumbar sifat buruknya dia ke publik. Kasian ART nya :(“

Ozzy F, @tryfzh (3/7/18), “Yups … terlepas manner dan perjanjian, majikan haruslah bijak. Kalo sudah pakai jasanya, makan, transport dan tempat tinggal wajib ditanggung sang majikan dan berusaha saling komunikasi agar buat nyaman kedua pihak.”

 Sugar Aunty, @tiapradiptha (3/7/18), “Aduh ini kelakuannya mirip orang yg saya kenal mba 😁

Piring gelas & peralatan masak buat ART pun dipisahin sama dia, kursi juga dipisahin, makan cuma boleh di dapur.

Di Indo masih pada banggain perbedaan kasta. Jadi mereka ngerasa ART itu budak, yg gak layak disetarakan.”

 Kelakukan Jovanzka terhadap PRT-nya juga mengingatkan persoalan yang sama di film “THE HELP” yang mengisahkan diskiminasi yang dialami PRT di USA. Seperti komentar Henny, @alohahenny (3/7/18), replying to @selphieusagi“film the Help”

Mengingatkan juga pada berita viral lalu dimana PRT diminta mengasuh anak di mall, ketika majikan sekeluarga makan, PRTnya tidak diajak makan. hehe🌻, @safirawwww,  replying to @selphieusagi, “Ini nih mb, saya juga heran. Disini banyak org merlakukan ART seperti ART ini manusia yg tidak sederajat jadi ga boleh dket2 brg majikan/membaur.Sy berulang kali lihat di resto, Sus/ARTnya ga boleh semeja bahkan ga dibeliin makan pas majikannya pada makan :(“

Puri Dewayani, @puridewayani (4/7/18), “Masalah spt ini nih yg bikin Indonesia harus punya regulasi tersendiri mengenai ART. Tapi UU-nya susah bgt disahkan 😫.

 Ujungnya banyak org memperlakukan ART seolah seperti slavery. Kelihatan bgt dari kata-katanya “hari ini ke yayasan ambil stok mbak baru”. Udah kayak barang 😢

Juga berbagai komentar di facebook:

Rien Asby, (7/7/18), “Kalo ada yang pernah nonton film The Help kasusnya agak mirip. Tapi menurut saya ini lebih kejam, karena keduanya hidup di abad yang menjunjung tinggi kesetaraan derajat manusia. Dan karena alasan enggak sopan, ya, enggak sopan, dia memutus sumber penghsilan orang lain. Enggak masalah sih sama standar soal kesopanan, tapi geli aja lihatnya. Dan kepedean macam apa yang dia punya, sampe berani menceritakannya kepada orang lain.”

Oom Umiyati, (7/7/18), “Wah org tak berperikemanusian hanya masalah duduk di kursi makan saja di phk…..bgmn jika dia yg menjadi prt ..bs phk dan menyusahkan org kok bangga smg dia sada rdan mendpatkan pelajaran supaya dia tdk asal memecat org.”

Tim Tungku juga secara langsung meminta respon beberapa  majikan terkait dengan kasus tersebut.

Bu Novel, panggilannya, seorang majikan yang bekerja di salah satu puskesmas di Mijen, Semarang.

 “Kalau hanya duduk di kursi itu biasa, saya juga sering tidur sama PRT bahkan makan bareng,” komentar Bu Novel

Komentar dari Bu Dea, salah satu majikan di Yogyakarta, “Ya PHK kalau alasannya hanya karena duduk di kursi ya tidak tepat. Kalau dalam hubungan kerja yang penting adalah saling membutuhkan dan saling menghargai. Kalau sudah nggak ada hal itu saling menghargai, maka hal kecil apapun bisa jadi alasan mengakhiri hubungan kerja.”

 

 Melihat Persoalan: Situasi Yang Sama Dialami Kawan-Kawan PRT

gambar diambil dari http://www.wanderingthefuture.com/2016/09/20/we-all-bleed-the-same-color/

Sebetulnya kasus-kasus yang dialami seperti  PRT di Jovanzka, juga banyak terjadi pada PRT lainnya.

Sunarti, PRT di DKI Jakarta, mengingat  kembali kasusnya 4 tahun yang lalu. Tahun 2014 dia pernah ditegur majikannya pula karena dengan secara reflek dia duduk di kursi meja makan majikan, saat lelah mengupas bawang putih 3 kg.

Yuli Maheni, PRT yang bekerja di Yogyakarta, “Sangat miris,dan itu sangat menghina PRT, karena duduk di kursi dan main HP majikan memecatnya. Dan itu kan di luar jam kerja. Karena sudah malam.”

 “Nasib PRT-nya, seperti saya. Saya sempat mengalami juga punya majikan yang seperti itu. Itu terjadi antara tahun 1993-1996, makan tidak boleh di meja makan yang sama.Kkatanya PRT harus makan di dapur. Bika saya berpakaian bagus atau berpenampilan bagus dari biasanya majikan juga suka tanya kok berpakaian bagus.Juga soal kaca mata. Saya mengalami gangguan pandangan, tidak bisa membaca dan sering salah membeli barang dan sering salah naik bis. Saya lalu pergi ke dokter dengan biaya saya sendiri.  Hasil pemeriksanaan mata saya minus 4. Terus saya memakai kaca mata. Majikan saya bilangPRT pada bergaya, sok-sokan pakai kaca mata.”

 42 dari 50 PRT yang diwawancara Tungku Menyala menyampaikan kasus serupa, perendahan, pelecehan, diskriminasi secara sosial. Berbagai contoh yang dialami, intimidasi secara lisan, mengganti nama dengan panggilan yang melecehkan, memarahi dengan kata-kata tidak layak, pelarangan untuk duduk di kursi, bangku, di rumah majikan, bangku taman apartemen, dan kursi tunggu di sekolah-sekolah. Ada bahkan majikan yang melarang PRT duduk ketika setrika, sementara setrikanya bertumpuk. Ada pula larangan penggunaan lift dan pintu masuk yang sama dengan majikan, dilarang minum dari galon aqua yang sama, dilarang berpakaian bagus pun juga banyak.

Memiliki pekerjaan adalah suatu sarana supaya  mendapat penghasilan untuk  biaya hidup bagi diri dan keluarga seseorang.  Lalu apa yang menjadi pilihan pekerjaan?

Bekerja, berkarya dan mendapat upah  itu yang menjadi pertimbangan. Semua pekerjaan sama, dan semua pekerja sama. Tak terkecuali kami, PEKERJA RUMAH TANGGA, yang bekerja membuat semua pekerjaan rumah tangga, rumah terjaga, terawat bersih, pakaian bersih dicuci, diseterika dan ditata, makanan sudah dimasak dan disajikam, anak dirawat dan diasuh dengan baik dengan kasih sayang. Pekerjaan yang kami lakukan membuat semua warga Negara dari buruh hingga wakil rakyat, Presiden bisa bekerja dengan baik, warga beraktivitas di berbagai bidang, perekonomian desa hingga kota, negara lancar.

Namun negara lupa memikirkan kami. Majikan juga lupa.

 

Reporter.: Jumiyem, Sargini – SPRT Tunas Mulia DIY, Yuni SR – SPRT Sapulidi DKI Jakarta