Ajeng Astuti

Hari-hari kulalui seperti biasa, pagi  berangkat ke tempat kerja, setelah itu melakukan rutinitas kerja. Masuk kerja jam delapan pagi kemudian pulang jam lima sore.

Biasanya hari Senin adalah hari yang paling sibuk bagi PRT, karena banyak hal yang dikerjakan dan membutuhkan energi ekstra. Ya karena hari Sabtu dan Minggu adalah hari libur maka pakaian yang harus dicuci dobel, begitu pula cucian piring gelas kotor  dan peralatan  dapur, serta sampah yang menumpuk.

Dua hari libur bukan berarti bebas beban. Istilahnya, beban ditumpuk di hari Senin. Tapi meski hari Senin paling sibuk, aku tidak termasuk golongan “I hate Monday” seperti juga bos, yang kadang mengeluh ketika berhadapan dengan hari Senin. Ya karena kuanggap itu pekerjaanku, ya harus dijalankan.

Aku bekerja di ekspatriat asal Singapura. Pekerjaanku di rumahnya membersihkan dan memasak. Masakan yang diminta bos sehari-hari menu masakan Cina.  Hari ini aku diminta memasak empat macam menu untuk makan malam keluarga bos. Empat macam masakan itu, tumis baby buncis, tumis jamur kancing, steam tofu kuah daging cincang, dan sup. Untuk sup, isinya ceker ayam, buah teratai, kacang tanah, kaki cumi kering, kurma Cina. Sup harus dimasak selama dua jam. Tentunya butuh waktu lama, sekitar 2-3 jam untuk memasak empat menu.

Sebetulnya aku agak stress hari Senin ini, Karena hari Senin ini jadwal untuk UTS (Ulangan Tengah Semester). Jam  enam aku harus sudah stand by di kelas 8 Kejar Paket. Pastilah cemas, khawatir kalau masakan belum selesai tapi harus segera cabut. Untung aku bisa mengatasi kecemasanku. Dengan tenang tanganku beraksi. Alhamdulillah hampir jam 5, masakanku sudah selesai. Hanya tinggal tunggu matang saja dan menghidangkan. Kalau soal ini, aku bisa negosiasi bos agar bos menyelesaikan sampai menunggu matang.

Aku pun pamit pada bos sambil berpesan bahwa tinggal sayur sop yang menunggu matang. Bos bilang,”Okay, nanti saya yang teruskan.” Senangnya punya bos yang baik.

Kemudian aku meluncur dengan sepeda motor menuju ke Sekolah PRT. Bersiap untuk UTS Kelas 8.  Ini yang bikin kepalaku serasa berdenyut-denyut. Apalagi sekarang  mata pelajaranya matematika, yang sulitnya minta ampun.  Untung guru pembimbingnya sangatlah sabar dan telaten, menghadapi muridnya yang semua sudah berkepala 3. Kesabarannya  mengurangi rasa cemas, senewen.

Para guru juga paham dan bisa mengerti situasi bahwa para muridnya adalah PRT yang berjibaku dengan jam dan beban kerja serta ijin bos. Ya tentu tidak mudah  bagi kami para PRT yang berkepala 3 untuk belajar.

Kesulitan yang paling berat ketika mau ikut Sekolah Kejar Paket adalah diri kita sendiri. Karena harus menempuh 2 tahun belajar, paling tidak masuk sekolah dua kali seminggu setelah jam kerja. Tentu kita khawatir, takut nanti kalau tidak bisa mengikuti dan berhenti di tengah jalan. Terus juga untuk apa ya sekolah lagi, wong kita sudah tidak muda lagi. Kok kelihatannya malah ribet. Pikiran-pikiram cemas itu datang silih berganti ketika harus mengambil keputusan antara melepaskan atau ambil kesempatan.

Kesulitan besar lainnya adalah memperjuangkan waktu antara kerja, keluarga dan sekolah. Terutama bagaimana melakukan negosiasi dengan suami dan bos. Itu masih aku yang rumahnya dekat sekolah dengan suami dan bos yang support, lha bagaimana dengan PRT lainnya?

Akhirnyasetelah pikir-pikir, kuputuskan ikut. Aku bisa mengalahkan kekhawatiranku. Kenapa kita yang di usia yang dibilang tak muda lagi, masih bersusah payah mau bersekolah, belum lagi otak yang sudah agak lambat memikirkan pelajaran. Seperti orang bilang menimba ilmu tak terbatas usia. Sudah begitu metode belajarnya juga gabungan dengan cara online lewat “mbah google”, sehingga paketan internet harus siap sedia. Kebayangkan repotnya harus mengeluarkan uang ekstra buat beli pulsa paket data, agar bisa online terus.

Keikutsertaanku di organisasi SPRT Sapulidi membangkitkan semangatku untuk belajar. Aku harus berkembang punya ilmu yang bisa kubagi. Kemungkinan jikalau aku tak bergabung dan berorganisasi tak akan berpikir untuk bersekolah lagi, menerima saja nasib. Dalam ajaran agama, Tuhan tidak akan mengubah nasib kita jika kita hanya diam dan tak berusaha mengubahnya.

Ya seperti sekarang nasib PRT yang masih dipinggirkan. Bukan berarti tidak bisa berubah. Sejak aku berserikat dan  sekolah wawasan serta Sekolah Kejar Paket sedikit banyak mulai paham bahwa aku PRT adalah pekerja yang punya hak sama seperti pekerja lainnya. Aku dan kawan-kawanku mulai mengenal hak dan belajar bernegosiasi bahwa kami berhak bekerja dengan standar kerja layak. Tentu tidak mudah menegosiasikan hal tersebut dengan majikan. Sebagian dari kami ada yang berhasil dan ada yang belum.

Seperti aku dari awal sudah mengkomunikasikan ke bos bahwa saya aktif berorganisasi dan bersekolah. Aku minta kejelasan jam hari kerja dan libur. Bos dan aku bersepakat. Hasilnya aku bisa ikut Sekolah Kejar Paket. Dari tingkat Paket A atau kelas 6 dan sekarang kelas 8.

Banyak yang kupelajari dari sekolah, termasuk tentang sosiologi bahwa ada lapisan masyarakat dari kelas bawah hingga atas. Dan aku jadi makin tahu dimana PRT. Terus belajar PKN. Salah satunya tentang DPR yang bertugas membuat dan menyusun undang-undang. Hal ini selalu mengingatkanku perjuangan untuk UU Perlindungan PRT.

Dulu aku hanya bisa melihat julukan Gedung Wajan Hijau DPR dari televisi. Tidak terbayang bahwa aku dan kawan-kawan setelah berserikat meski susah payah dengan aksi atau audiensi bisa masuk ke dalamnya dan bertemu berdialog dengan wakil rakyat.

Aku ingat sekali  melihat para guru yang heran dan kagum sama kami. Kuceritakan pengalaman ini ke para guru,  bertemu wakil rakyat, bahwa kami sudah berkali-kali ke gedung  DPR untuk menyampaikan tuntutan UU PPRT. Para guru terheran-heran “kok bisa?”

Katanya mereka sebagai guru saja tidak pernah. Kok kami PRT bisa dan beberapa kali ke sana? Ya lah bu dan pak guru, karena kami berserikat bersekolah. Karena kami bertempur memperjuangkan waktu kami untuk UU PPRT.

***

Senin, 1 Oktober 2018.

ditulis oleh Ajeng Astuti

SPRT Sapulidi