Bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga) di kota besar, terpaksa harus meninggalkan keluarga tercinta di kampung halaman. Tentu bagi pekerja perempuan yang paling berat adalah terpisah dengan anak. Majikan sering tidak peduli pada.perasaan ibu pekerja rumah tangga. Ijin pulang biasanya setahun sekali pada hari raya. Prihatin mendengar kerinduan seorang ibu yang harus jauh dari anak-anaknya. Seperti kisah seorang Leni Suryani seorang pekerja rumah tangga.(Redaksi)

 

NAMAKU Leni Suryani. Aku berasal dari suatu desa yang berada kaki Gunung Merapi, tepatnya di Desa Sidamulih RT 03/04 Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Mayoritas penduduk di kampungku  bermata pencaharian sebagai petani, juga kedua orang tuaku Pak Mutori dan Bu Marinem.

Aku anak kedua dari 3 bersaudara. Sekarang 35 tahun usiaku. Aku menikah dengan Eriyanto ketika berusia 25 tahun. Kini kami dikaruniai satu orang anak perempuan bernama Nindya Athalia Nadhiva yang berusia 10 tahun. Anakku tercinta sekarang  duduk di bangku sekolah dasar, SD Negri II, Sidamulih.

Penduduk di kampung halamanku mengandalkan hasil pertanian padi, palawija, dan sayur mayur untuk menghidupi keluarga, pendidikan anak dan kebutuhan seharai-hari. Tapi di jaman sekarang kebutuhan makin meningkat. Maka banyak kalangan muda yang sudah lulus sekolah dari SD sampai SMA, yang sudah menikah.  Namun tidak banyak dari mereka yang mengambil keputusan untuk bekerja ke kota bahkan ada yang bekerja di luar negeri. Aku termasuk yang mengambil keputusan untuk merantau bekerja di ibu kota Jakarta bersama suami dan meninggalkan anak di kampung bersama kedua orang tua. Harapan kami agar bisa menafkahi keluarga dan menyekolahkan anak hingga ke jenjang kuliah nanti.

Aku sekarang bekerja di kawasan elit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Pekerjaanku sebagai PRT. Sehari-hari tugasku mengasuh Mawar (bukan nama sebenarnya), anak majikan yang berusia 5 tahun. Pekerjaan ini sudahku jalani selama 2 tahun.

Berat memang berjauhan dan meninggalkan anak di kampung. Kadang ada perasaan bersalah karena di sini saya mengasuh anak majikan sementara anak sendiri dititipkan dan diasuh orang tua.

Ketika rindu membuncah, aku hanya bisa melihat wajahnya melalui handphone, berkomunikasi melalui sambungan telephone seperti whattapps dan video call.

Keluarga majikanku juga baru mempunyai anak yang pertama, yang ku asuh sekarang. Mereka berpesan agar aku benar-benar menjaga dan mengasuhnya dengan baik. Ketika bekerja mengasuh anak majikan kadang aku membayangkan kapan aku bisa mengasuh dan membesarkan anak sendiri?.

Ya… sedih memang, apalagi kalau dengar anakku sakit. Ingin rasanya bisa merawat  berada di sampingnya. Tapi itu hanya keinginan dan pada kenyataannya aku tidak bisa berbuat apa- apa, karena keadaan dan kebutuhan ekonomi keluarga. Aku hanya bisa menahan tangis, membayangkan anak dan kedua orang tua di kampung. Dalam hati aku hanya bisa mohon, agar Yang Maha Kuasa selalu menjaga anak dan keluargaku.

Semoga kelak Nindhia Athalia Nadhiva, mengerti dan tahu kenapa dan mengapa ibu dan ayahnya meninggalkannya bersama neneknya di kampung. Harapanku sebagai orang tua hanya ingin keluarga hidup berkecukupan dan anak bisa bersekolah hingga dibangku kuliah.

 

Penulis: Leni Suryani (SPRT Sapulidi, Jakarta)