Anak-akan perempuan desa yang masih polos dan lugu, mudah menjadi korban perkawinan anak. Ini kisah Lastri, seorang anak perempuan, memilih bekerja jadi Pekerja Rumah Tangga, agar lolos dari perkawinan anak.

 

Namaku Lastri, umur 29 tahun. Aku bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) dari umur 14 tahun lebih tepatnya putus sekolah kelas 2 SMP. Pada saat itu di kampungku lagi trend pernikahan anak. Banyak temanku yang menikah umur 16 tahun dan aku sempet takut pas orang tuaku merekomendasikan seseorang untuk menikah denganku. Padahal aku kalau ketemu dia aja merasa takut.

Akhirnya aku memutuskan untuk putus sekolah dan pergi ke Jakarta bersama saudara. Pada waktu itu aku terlihat masih kecil. Banyak orang yang bilang belum bisa bekerja.

Tak lama kemudian saudaraku mendapat info mengenai lowongan jadi PRT kerjaanya gak berat cuma nganterin bos ke kantor dan kalau malam nemeni tidur setelah suaminya pergi. Alhamdulillah akhirnya diterima kerja di situ.

Lastri bersama kawan-kawannya di SPRT Sapulidi dalam acara Dialog Sosial tentang Jaminan Ketenagakerjaan di Jakarta pada 29 September 2019

Aku sempet bingung karena majikannya cuma seorang perempuan saja dan yang kerja inap 3 orang. Ternyata tugasku ngurusin bos kalau bepergian gitu,– dari menyiapkan baju dan aksesorisnya. Lama-lama aku pusing,– baju dan aksesorisnya banyak banget sedangkan setiap ke kantor bajunya harus cocok sama event di kantornya. Beliau seorang manajer hotel berbintang jadi kalau ada event yang handle bosku itu bajunya harus sama seperti event partai dan lainnya.

Kalau aku salah mengambilkan baju selalu marah-marah dan dibilang otak di dengkul. Saat itu juga rasanya pengen pulang kampung. Udah gitu sebulan libur cuma sekali sehari. Itu pun kalau aku libur si bos selalu bilang harus ada yang jemput atau orang yang jelas baru. Kalau gak ada,– ya gak boleh libur. Aku tidak tau pasti alasannya kenapa, tapi kata beliàu hanya tidak ingin terjadi apa-apa. Karena aku baru umur 17-an dan masih labil.

Berhubung aku merasa gak enak selalu merepotkan teman dan saudara akhirnya kalau libur terkadang aku cuma di dalam gudang,– tidur seharian di gudang. Izinku libur ke rumah saudara.

Tak terasa 3.5 tahun lebih aku bekerja di situ. Banyak yang lainnya keluar masuk tapi aku bertahan. Entah aku yang terlalu lugu atau bosku yang over protective. Cuma waktu itu aku menganggap positif aja. Mungkin bosku cuma ingin melindungiku aja.

Jaman itu belum ada organisasi PRT. Belum ada orang yang peduli. Pekerja domestik gaji semaunya majikan. Perbudakan di mana-mana terutama seperti aku yang dari kampung belum ada pengalaman dan  wawasan. Semua yang dikatakan bos cuma bilang iya dan gak. Tidak berani bernegoisasi dan juga tidak berani membela diri.

Alhamdulillah sekarang ada organisasi PRT SAPULIDI yang 100% memperjuangkan hak-hak pekerja rumah tangga bukan hanya untuk 1 PRT tapi untuk seluruh PRT di seluruh Indonesia. Banyak ilmu dan pengalaman yang aku dapat di organisasi ini sehingga sekarang aku tahu hak-hak pekerja termasuk pekerja rumah tangga. Saat ini semua kawan PRT belajar menggali ilmu membekali diri biar tidak diperbudak dengan alasan-alasan tertentu.

Step by step nasib pun bisa diubah asalkan ada kemauan untuk mengubah dengan belajar dan mencari teman yang bisa memotivasi, semangat dan tidak takut keluar dari zona nyaman.

Tahun 2014 aku dikenalin yang sudah bergabung di organisasi SPRT SAPULIDI. Waktu itu aku juga gak mudeng apa yang dijelasin. Tapi kawanku mengajak les bahasa Inggris. Nah, hanya itu yang buat aku semangat untuk gabung. Padahal aku juga gak tau mau bekerja dengan siapa dan mau bicara Inggris dengan siapa. Yang ada hanya akan dibully orang di kampungku. Tapi aku gak peduli karena aku hobi belajar bahasa Inggris dan suatu saat pasti bermanfaat.

Aku juga gak ada niat untuk kerja keluar negeri. Tapi jika kita mengetahui rumus bahasa Inggris baik penulisan atau pun bicara itu menjadi nilai tambah keterampilan kita.

Kemarin ada teman sekelasku PRT juga dia mendapat kosakata baru “exhausted” artinya lelah banget. Waktu dia kerja bosnya tanya  “Are you tired?” Temenku jawab “I’m exhausted”. Lalu si bos merasa itu pekerjaannya sangat melelahkan. Dikasihlah ia uang ekestra walaupun tidak lembur. Mungkin kalau hanya bilang tired itu biasa orang kerja ya lelah. Tapi dia bilang exhausted yang menjadi perhatian lebih bosnya. Itulah manfaat belajar. Tau bagaimana menempatkan bahasa.

Aku pun jadi ingat 3 tahun yang lalu aku interview dengan seorang expatriate yang baru datang di Jakarta dan full bahasa Inggris. Waktu itu kata resepsionist yang diinterview udah orang ke 6 dan saya ke 7. Aku jadi pesimis gak diterima karna Inggrisku masih limited kosakatanya.

Bismillah! Dengan hati yang tenang interview berlangsung selama 20 menit. Si bos menyebutkan bukan hanya nyari PRT saja, tapi juga yang bisa membantu jadi penerjemahnya saat bepergian di sekitar Jakarta. Dengan ragu akupun menjawab “Yes I can do” dan bos menerimaku tanpa harus ada percobaan. Sejak itu juga saya jadi belajar bahwa keterampilan kita menjadi nilai jual yang lebih dan kita bisa belajar kosakata lebih banyak sambil bekerja.

Kurang lebih selama 4 tahun aku belajar di organisasi SAPULIDI dan manfaatnya luar biasa. Sebelumnya aku orang yang gak berani bicara dan gak tau apa-apa. Bahkan ada penindasan pun aku merasa nyaman karena kekurangtahuan.

Bukan hanya tentang bahasa Inggris, tapi juga bisa belajar tentang hak-hak PRT, cara bernegoisasi, belajar wawasan, jaminan sosial, sekolah kejar paket dari A, B, & C sampai les komputer dan lainnya. Belajar dan berjuang untuk mendapatkan RUU PPRT adalah tujuan kami.

Ayo kawan-kawan yang belum aktif,–bersemangatlah dan belajar. Ayo bergabung belajar bersama. Tak ada batasan umur kita. Sama-sama kita belajar.

Penulis: Lastri (SPRT Sapulidi, Jakarta)